Artikel

Saya menulis untuk membantu saya berpikir dan membagikan apa yang saya ketahui.

RSS feed

Segmentasi Plot dan Sub-Plot

Film A Separation, yang disutradarai oleh Ashgar Farhadi, secara keseluruhan menceritakan tentang keluarga yang akan ingin berpisah. Alasan mereka berpisah sangat tidak masuk akal. Hanya karena istrinya ingin ke luar negeri dan suaminya tidak bisa ikut dikarenakan ayahnya sedang sakit alzheimer.

Pembukaan film tersebut diawali dengan sebuah mesin fotocopy yang sedang mem-fotocopy surat nikah. Hal ini tentu membuat penonton menerka-nerka akan dibawa kemana film tersebut nantinya. Apakah ada sebuah perceraian atau apa.

Kemudian dilanjutkan dalam sebuah scene tentang perdebatan keluarga Nader dan Simin di sebuah pengadilan. Seorang hakim yang tidak diperlihatkan kepada penonton tidak bisa memutuskan perpisahan mereka karena alasan yang tidak masuk akal tersebut. Hakim mengatakan bahwa masalah mereka hanya masalah kecil yang tidak perlu dibawa sampai ke pengadilan.

Setelah mereka pulang dari pengadilan, Simin memutuskan untuk pergi ke luar negeri sendiri. Akan tetapi, saat Simin berpamitan kepada ayah mertuanya, ayah mertuanya tersebut memegang erat tangannya. Berarti bahwa ayah mertuanya ingin Simin tetap berada di rumah tersebut. Namun Simin tetap keukeuh ingin pergi.

Pada pertengahan cerita, setelah kepergian Simin dari rumah Nader, suaminya, Nader memperkerjakan seorang perempuan yang begitu taat Bergamauntuk mengurus rumah dan ayahnya. Perempuan tersebut bernama Razieh. Kali pertama Razieh bekerja di rumah Nader, awalnya lancar. Tapi kemudian saat ayah Nader ingin keluar membeli koran, Razieh agak kebingungan. Dengan sangat hati-hati dan tanpa menyentuh laki-laki tersebut, Razieh menggiring ayah Nader ke kamar. Sebelum sampai di kamar, Somayeh, anak Razieh, melihat celana lelaki tersebut basah. Somayeh berkata kepada ibunya bahwa lelaki tersebut kencing di celana.

Ucapan yang dilontarkan Somayeh tersebut tanpa disadari adalah sebuah humor. Selain diucapkan dengan wajahnya yang begitu polos juga dia mengucapkannya dengan jujur meskipun agak sedikit ragu-ragu.

Hal tersebut menjadi suatu kesulitan bagi Razieh. Pertama, karena dia yang sangat taat pada agamanya jadi dia tidak berani menyentuh lelaki yang bukan muhrimnya. Kedua, dia belum pernah menghadapi hal semacam itu. Akhirnya, dia pun menelepon Simin, tapi Simin sedang mengajar. Simin pun menyuruh Razieh untuk menelepon suaminya saja. Razieh tidak menelepon Nader, melainkan dia menelepon seseorang yang ahli dalam agama. Setelah menelepon seorang ahli agama itu, Razieh membersihkan bekas kencing ayah Nader meskipun dengan keraguan.

Masalah Razieh tak berhenti di situ saja. Hari setelahnya, dia mendapat kesulitan yakni ayah Nader tak ada di kamarnya. Somayeh melapor kepada ibunya dengan nada dipelankan bahwa lelaki tersebut tidak ada di dalam kamar. Setelah mengambil kerudungnya, Razieh berlari ke jalan. Razieh pun menemukan lelaki tersebut berada di sebuah toko penjual koran. Ketika Razieh hendak menyeberang jalan untuk menghampiri lelaki tersebut, Razieh tertabrak mobil.

Dalam film A Separation ini, adegan Razieh tertabrak mobil tidak diperlihatkan. Dalam konsep editing-nya, pembuat film melakukan jump-cut pada adegan tersebut. Adanya jump-cut dalam adegan tersebut, tentu ada yang disembunyikan oleh si pembuat film. Memang betul, adegan tertabrak mobil tersebut diperlihatkan oleh si pembuat film dalam adegan ketika Razieh diinterogasi oleh Simin perihal kasus antara Razieh dan Nader.

Setelah adegan Razieh tertabrak mobil, penonton disuguhi sebuah humor kembali. Humor itu muncul ketika Somayeh mempermainkan tabung gas oksigen. Tabung gas oksigen tersebut bekerja dalam tubuh ayah Nader. Somayeh tak berhenti untuk mempermainkan tabung gas oksigen tersebut hingga akhirnya ayah Nader tersedak. Soamayeh, dengan wajah polosnya, seperti tak terjadi apa-apa, dia mengucapkan salam kepada ayah Nader.

Hari ketiga Razieh bekerja, dia masih dibuntuti masalah. Saat hari ketiga ini merupakan masalah terbesar bagi Razieh. Yakni, ketika Nader dan anaknya yang bernama Termeh pulang sekolah, mereka berdua mendapati pintunya yang terkunci dari luar. Saat pintunya diketuk-ketuk berulang kali, tak ada yang memberi jawaban sama sekali. Nader pun berinisiatif mengambil kunci cadangannya di mobil.

Pada waktu Nader dan Termeh masuk rumah, mereka tak mendapati Razieh dan anaknya di dalam rumah. Nader dan Termeh pun mencari-cari mereka. Tapi justru Nader terkejut karena uang yang berada di lacinya tidak ada dan Termeh mendapati kakeknya sudah tak berdaya di lantai di samping kasur dengan tangan yang diikat di kasur.

Pada babak pertengahan tersebut, plot utama menjadi kabur. Justru sub-plot lebih menonjol. Jika dilihat dari judulnya yang berarti ”sebuah perpisahan”. Kemudian ada sub-judul, yakni sebuah perpisahan antara Nader dan Simin. Dalam film ini, pembuat film hanya menyuguhkan sebuah pembukaan yang berlatar di sebuah pengadilan. Dalam scene-scene berikutnya tidak ada penjelasan tentang masalah kenapa mereka akan berpisah. Justru pembuat film menghadirkan konflik baru tentang Simin dan Razieh. Hingga perpisahan antara Simin dan Nader seperti terlupakan.

Sub-plot tersebut terlihat lebih mendominasi daripada plot utamanya. Barangkali pembuat film ingin menghadirkan sebuah surprise tentang perpisahan tersebut dengan menonjolkan sub-plotnya. Akan tetapi, hingga sub-plot tersebut terus bergulir mengalir hingga film tersebut mau berakhir, konflik antara Simin dan Nader tidak diperlihatkan bahkan ditonjolkan kembali.

Di sisi lain, sub-plot itu menjadi menarik meskipun penonton menjadi lupa tentang plot utamanya. Menariknya sub-plot tersebut karena didukung dengan konflik-konflik yang dihadapi Razieh dan karena kehadiran Somayeh. Konflik-konflik yang dialami Razieh menggambarkan ketegaran seorang wanita yang sedang hamil menjalani pekerjaan yang dalam kategori sangat menguras tenaga. Selain itu, dalam konflik Razieh tersebut juga mengatakan bahwa seorang perempuan bisa berperan seperti laki-laki. Yakni, dalam keluarga Razieh, suami Razieh sudah menjadi pengangguran selama berbulan-bulan dan karenanya suami Razieh menjadi stres dan emosinya sering memuncak.

Ketika bekerja di rumah Nader, Razieh tidak izin kepada suaminya. Di satu sisi hal tersebut bisa dipandang negatif karena tidak adanya kejujuran dalam sebuah rumah tangga. Namun di lain sisi bisa dipandang sebagai hal yang positif bahwa Razieh melakukan pekerjaan tersebut karena dia ingin membantu keuangan dalam keluarganya yang mulai surut. Razieh tidak meminta izin kepada suaminya karena dia tak ingin suaminya marah dan stresnya kambuh.

Kehadiran Somayeh memberi gambaran tentang kepolosan anak kecil yang menjadi suatu humor dalam film tersebut. Juga, kehadirannya menggambarkan tentang psikologi anak kecil yang dihadapkan pada konflik yang dialami orangtuanya. Hingga dia menggambar seorang laki-laki dan perempuan sedang bertengkar.

Tentang psikologi anak, ini juga terjadi kepada Termeh. Termeh juga mengalami guncangan secara psikologi saat mendengar orangtuanya hendak berpisah. Akan tetapi hal tersebut dapat ditepis karena orangtuanya sebenarnya masih saling mencintai.

Film A Separation ditutup dengan cara open ending. Akhir kisah dibiarkan begitu saja. Pertama, konflik antara Nader dengan Razieh yang berakhir begitu saja tanpa diberi tahu apakah Razieh menerima uang tebusan dari Nader atau tidak. Kedua, perpisahan antara Nader dan Simin juga digantung begitu saja. Tidak ada suspens dan surprise. Akhir film ini juga terasa sangat terburu-buru untuk diakhiri.

Termeh, dalam akhir cerita menjadi penengah perpisahan antara ibu dan ayahnya. Di pengadilan, hakim belum bisa memberi keputusan karena belum tau Termeh ingin ikut dengan ibu atau ayahnya. Saat hakim bertanya demikian kepada Termeh, Termeh menginginkan agar orangtuanya keluar dulu dari ruang pengadilan. Namun setelah orangtuanya keluar dari ruang pengadilan film berakhir.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan dan membuat penonton menjadi penasaran. Apakah Termeh memilih ibu atau ayahnya? Atau justru Termeh tidak membiarkan orangtuanya berpisah? Jika dilihat secara detail, kemungkinan Termeh tidak membiarkan orangtuanya berpisah. Karena Termeh tau bahwa orangtuanya hanya tidak mau mengakui bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Termeh juga tau bagaimana orangtuanya sama-sama saling mencintai.

Bacaan, Film, Kritik Film, Seni, Sinema