Artikel

Saya menulis untuk membantu saya berpikir dan membagikan apa yang saya ketahui.

RSS feed

Perkembangan Studi Televisi dari Berbagai Perspektif

Istilah ”Studi Televisi” atau ”Kajian Telivisi” sudah ada sejak tahun 1990-an dan sudah sering digunakan di lingkungan akademis. Dalam hal ini misalnya, banyak departemen universitas yang menggunakan istilah tersebut dipararelkan dengan kajian film, atau bahkan di Indonesia istilah kajian televisi digunakan di ranah ”Ilmu Komunikasi”.

”Studi Televisi” sebagai istilah, dengan demikian, muncul dua cabang yakni, dalam ranah ”institusional” dan dalam ”bidang akademis”. Sementara di ranah institusional istilah studi televisi hanya sebagai label di antara lembaga-lembaga, sedangakan dalam bidang akademis, istilah kajian televisi digunakan sebagai sebuah disiplin ilmu yang manidiri atau dapat berdiri sendiri.

Meskipun begitu, ada salah satu tokoh yakni, Toby Miller yang berusaha menghidari pengkotak-kotakan seperti itu. Bagi Miller, justru yang menjadi fokus utama untuk dipelajari bukan sekadar mediumnya atau sinematiknya, melainkan ”screen”, karena yang menyakan di antara sinema dan televisi adalah layar. Selain layar, hal yang juga perlu dipelajari ada teks televisi itu sendiri dan konteksnya.

Sehingga, dengan demikian, untuk mendefinisikan tentang studi televisi itu sendiri sangat sulit. Karena di bagian yang satu bisa, di bagian yang lain pun bisa. Jadi begitu susahnya mendefinisikan apa itu studi televisi secara utuh dan jelas. Namun, meskipun begitu, studi televisi perlu adanya suatu perubahan dan analisis.

Sedangkan menurut Lee De Forest, televisi memiliki kekuatan sosio-kultural. Karena bagi dia, sejak awal televisi sudah didekatkan dengan sosial dan budaya manusia. Sehingga televisi akan berkontribusi dengan formasi sosial tertentu. Jadi, medium yang dapat diakses oleh semua orang tersebut, yang memiliki nilai sosial dan budaya, sehingga menimbulkan pandangan atau kehidupan baru.

Sifat domestik medium, berbagai penawarannya, hubungannya dengan waktu dan ruang, kemampuannya untuk mempengaruhi sikap dan perilaku, semua pengamatan tersebut mengarah pada pertanyaan yang masih terbuka untuk dieksplorasi. Dan, tentu saja, dalam hal ini, De Forest mengatakan bahwa ”efek” televisi pada perilaku dan sikap, dengan cepat muncul ke permukaan pada tahun-tahun awal perkembangan media sebagai pertanyaan ”esensial” yang harus ditangani.

Banyak pemeriksaan mengenai televisi yang dilakukan oleh psikolog sosial, sosiolog, ekonom, ilmuwan politik, dan lain-lain mulai awal dan terus menjawab pertanyaan dan memberikan informasi, bahkan data, sangat berguna untuk pemahaman penuh tentang media.

Hal tersebut merupakan kasus, bahwa ”studi televisi” yang paling baik dipahami sebagai sesutau yang memerlukan power of blended yakni, yang menggabungkan kekuatan strategi penelitian dari berbagai sudut pandang yang tetap peduli dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya misalnya, masalah sosial, selain itu juga dikembalikan dari sudut pandang yang baru.

Pemetaan perkembangan studi telivisi ini pun memiliki pengaruh dari, pertama, televis sebagai sebuah bidang karena adanya ”budaya populer”, karena dalam budaya populer sudah menghilagkan batasan-batasan antara high-art dan low-art. Dan dengan adanya budaya populer ini, semua orang bisa menikmati sebuah karya.

Pengaruh yang kedua yaitu, ”Cultural Stidies”. Dalam kajian budaya ini, yang diperiksa atau dipelajari dari televisi adalah ideologinya, terutama ideologi yang tersembunyi. Yang ketiga yakni, ”sosiologi kritis” dari Frankfurt School, dikatakan bahwa televisi merupakan industri budaya yang menyebarkan kesadaran palsu.

Pandangan dari John Corner mengenai televisi dibagi menjadi dua yakni, ”Televisi sebagai Objek” dan ”Televisi dan Krikik”. Pertama, dia menunjukkan bahwa televisi itu sendiri adalah konstitutif secara budaya, terlibat langsung dalam sirkulasi makna dan nilai-nilai dari budaya populer dan politik yang dibuat dan juga menyediakan sumber daya interpretatif untuk dilihat. Kedua, bahwa semua televisi yang ditonton akan membawa beberapa modifikasi dalam pengetahuan dan pengalaman, sekecil apapun itu.

Sementara menurut John Hartley (1999) studi televisi di bagi menjadi empat pokok: televisi sebagai masyarakat massa, televisi sebagai teks, televisi sebagai penonton, dan televisi sebagai pedagogi.

Begitulah perkembangan studi televisi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda, maka muncul pula pandangan yang berbeda-beda juga. Jadi, jika dilihat dari pandangan-pandangan tersebut bahwa studi televisi tidak bisa didefinisikan atau dijelaskan begitu saja, karena dalam studi televisi bukan hanya dilihat dari satu sisi misalnya sosial, ekonomi, ataupun budaya, melainkan juga harus dilihat secara teks dan konteksnya.

Bacaan, Kajian Sinema, Kajian Televisi, Seni, Televisi, Teori