Artikel

Saya menulis untuk membantu saya berpikir dan membagikan apa yang saya ketahui.

RSS feed

Cross-Dressing: Analisis Identitas Gender dan Seksualitas dalam Film Wadjda

Mukadimah

Sosok perempuan dalam estetika karya seni memang seringkali menjadi wacana untuk merepresentasikan ’keindahan’. Konsep keindahan dideskripsikan melalui ciri-ciri yang lazimnya dilekatkan pada sosok perempuan: proposional sekaligus rapuh, menyenangkan sekaligus membius. Namun, Wadjda—film yang kali pertama mewakili Arab Saudi masuk Oscar, kendati tidak masuk nominasi—mencoba memberi gambaran lain tentang sosok perempuan. Dalam film ini, antara gender dan seksualitas saling berkelindan, terutama dalam kaitannya dengan cross-dressing.

Gender dan Seksualitas

Gender memiliki asal-usul sosio-budaya yang bersifat ideologis dan harus dilihat sebagai pengertian seks biologis dan seksualitas. Bagian dari fungsi ideologis gender adalah untuk merombak perbedaan dan untuk melihat seks dan gender sebagai hal yang sama. Fungsi ideologis gender adalah untuk menyusun kumpulan biologis, fisik, sosial, psikologis, dan psikis yang heterogen dan menentukan sebagai atribut tetap dan tak terbarahkan dari subjektivitas manusia (Kuhn, 1985: 52).

Fungsi ideologis gender adalah untuk memperbaiki dan membangun kita sebagai laki-laki atau perempuan. Ini sependapat dengan gagasan Judith Butler, bahwa gender adalah performatif. Ini menyiratkan bahwa identitas gender seseorang dihasilkan melalui kinerja dan permainan peran.

Sementara itu, istilah ’seks’ mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan berkaitan dengan fungsi reproduksi dan, dengan ekstensi, untuk kegiatan yang mengarah ke reproduksi.

Oleh karena itu, peran gender bukanlah sesuatu yang alami atau tidak opsional: pada kenyataannya, ia dibangun oleh berbagai wacana budaya dan, terutama oleh bahasa.

Di dalam film terjelaskan dalam adegan ketika Wadjda melihat pohon nasab (silsilah) milik bapaknya. Ibu Wadjda mengatakan bahwa ia tidak bisa masuk ke dalam pohon nasab tersebut, karena Wadjda adalah seorang perempuan. Maka akhirnya, Wadjda menulis namanya di atas kertas dan menempelkannya di bawah nama ayahnya (lihat Gambar 1 dan Gambar 2).

Wadjda membaca silsilah keluarga ayahnya dan mendapati namanya tidak ada—karena perempuan.

Gambar 1: Wadjda membaca silsilah keluarga ayahnya dan mendapati namanya tidak ada—karena perempuan.

Wadjda menulis namanya sendiri di kertas dan menempelkan ke silsilah keluarga ayahnya.

Gambar 2: Wadjda menulis namanya sendiri di kertas dan menempelkan ke silsilah keluarga ayahnya.

Dari gambar Wadjda menempelkan namanya sendiri dalam pohon nasab tersebut juga dapat diinterpretasikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kuhn, fungsi ideologis gender ini, perempuan diposisikan sebagai lebih rendah secara ekonomi terhadap laki-laki, lebih terkait dengan domestik daripada ruang publik, lebih emosional, kurang kuat daripada laki-laki.

Jadi dari adegan di atas dapat dilihat perbedaan antara seksualitas dan gender, bahwa buukan soal antara laki-laki dan perempuan dalam pengertian sebatas alat kelamin, tetapi sudah menjadi tatanan budaya tertentu.

Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa ada banyak tindakan performatif yang merongrong, kurang lebih secara drastis, konsep normatif identitas seksual dan gender: misalnya, cross-dressing.

”Cross-Dressing” dalam Film Wadjda

Dengan problematika yang dihadirkan dalam film tersebut, tentang kesetaraan dan mempertanyakan kembali tentang status perempuan, maka sutradara film ini merepresentasikan tokohnya yakni, Wadjda, dengan adanya cross-dressing.

Cross-dressing, menurut Kuhn, mengedepankan aspek kinerja berpakaian dan mempermasalahkan identitas gender dan perbedaan seksual.

Di dalam film ini, cross-dressing direpresentasikan melalui adegan ketika Wadjda berkeinginan untuk bisa naik sepeda—di Arab, naik sepeda bagi perempuan tidak diperbolehkan karena bisa membahayakan selaput dara—seperti teman laki-lakinya (tengok Gambar 3). Namun, kendatipun ia dilarang oleh ibunya, ia tetap naik sepeda.

Wadjda Naik Sepeda.

Gambar 3: Wadjda Naik Sepeda.

Tokoh perempuan tersebut, terus mendekonstruksi tatanan sosial-budaya yang ada di lingkungannya. Selain direpresentasikan sutradara melalui sepeda, hal ini juga disampaikan melalui karakterisasi yang kelaki-lakian, yakni melalui cara berpakaian.

Karakterisasi Wadjda di film ini ditampilkan dengan gaya berpakaian seperti: di saat semua teman perempaun di sekolahnya mengenakan sepatu pantofel, justru ia memakai sepatu sneaker; ketika keluar dari rumah tidak menggunakan cadar atau penutup wajah, bahkan dalam menggunakan kerudungpun dia tidak menutup seluruh kepalanya; Dan juga, ketika para perempuan keluar rumah menggunakan abaya dia langsung mengenakan seragam sekolahnya, tanpa ditutupi lagi dengan pakaian yang longgar dan besar.

Epilog

Bentuk dari permasalahan gender dan seksualitas tidak selamanya berupa homoseksulitas, homososial (ini mengacu pada perasaan yang dipupuk oleh institusi seperti tentara dan sekolah satu jenis kelamin yang mengarah pada ikatan di antara orang-orang dengan jenis kelamin yang sama), dan transgender, melainkan bisa dalam bentuk berpakaian yang disebut dengan cross-dressing.

Meskipun dalam film ini, karakter berada dalam intitusi dengan jenis kelamin yang sama, namun sutradara tidak merepresentasikannya melalui homososial, melainkan hanya melalui cross-dressing. Dengan itulah tokoh Wadjda mempertanyakan statusnya. Dan hal itu direpetisi dalam adegan yang berbeda.

Akhirnya, melalui representasi film ini, yang dihadirkan melalui tokoh perempuan yang berpenampilan berbeda dengan perempuan lainnya, dapat diketahui bahwa hanya lewat cross-dressing ini sudah menggambarkan bahwa gender terlahir melalui konstruksi dan/atau tatanan sosial-budaya dalam lingkungan sekitar. Hal ini berbeda dengan seksualitas yang hanya berkisar pada jenis kelamin saja.

Analisis Film, Feminisme, Kajian Sinema