Sejarah Awal Masuk Film di Indonesia: Film tahun 1900 Sampai Film ’Terang Bulan’

Prolog

Nama Indonesia belumlah dikenal pada peralihan dari abad ke-18 menuju abad ke-19, sehingga kepulauan ini masih disebut dengan Hindia Belanda. Pada abad ke-18, perekonomian di Hindia Belanda dikendalikan oleh organisasi dagang Belanda, sedangkan pada abad ke-19, justru ditandai dengan kebangkrutan organisasi dagang Belanda tersebut. Pada abad ke-19, khususnya di Jawa, merupakan perkembangan ekonomi integral yang berorientasi ekspor. Perkembangan ini terkait dengan prinsip pembangunan, yakni berdirinya pemerintahan yang kuat, pertumbuhan penduduk yang berkelanjutan, dan ekspansi ekonomi yang berkaitan dengan modal dan teknologi baru (Garin dan dyna, 6-7).

Perkembangan ini, ikut mendorong kebutuhan elite masyarakat Eropa di Hindia Belanda terhadap seni, terutama seni pertunjukan dan film. Gedung-gedung pertunjukan mulai didirikan di beberapa kota besar, seperti Batavia, Surabaya, Bandung, Semarang, Makasar, dan Medan.

Gedung-gedung pertunjukan ini umumnya diberi nama dengan sebutan societeit, dari Belanda yang merujuk tiga makna sekaligus, pertama, sebuah klub sosial beranggotakan terbatas; kedua, sebuah bangunan tempat para anggota klub sosial berkumpul; ketiga, awalan nama sebuah kelompok atau komunitas. Kelompok elite yang terbentuk dalam pergaulan kolonial masyarakat Hindia Belanda terus bertambah dengan diterapkannya Politik Etis oleh Pemerintah Hindia Belanda (Garin dan Dyna, 9).

Pada umumnya, tahun 1895 dipandang sebagai tahun lahirnya film dengan pertunjukan pertama yang diselenggarakan oleh dua orang bersaudara yakni, Auguste dan Louis Lumiere di Paris. Pada tahun yang hampir sama juga muncul Robert Paul di Inggris, Max dan Emil Skaladanowski di Jerman dan Thomas Armandt di Amerika sebagai perintis film. Barulah kira-kira 30 tahun kemudian, film pertama lahir di Indonesia (Gayus, 17).

Yang menjadi pertanyaannya, bagaimanakah film pertama muncul di Indonesia, sedangkan pada masa itu orang Indonesia bisa dikatakan masih buta akan pengetahuan? Ataukah mungkin yang membuat dan menonton hanya orang-orang elite saja? Bagaimana dan melalui apakah Politik Etis dapat membawa pengaruh baik bagi masyarakat Indonesia?

Politik Etis

Politik Etis atau yang bisa disebut juga politik balas budi, memiliki semboyan ”ekspansi, efisiensi, dan kesejahteraan”. Hal tersebut ditandai dengan kehadiran kredit untuk rakyat, berdirinya sekolah-sekolah, hingga peningkatan pertanian, kesehatan, pelayanan pos, dan telegram (Garin dan Dyna, 5).

Ratu Wilhelmina mengumumkan kebijakan Politik Etis dalam pidato pengukuhannya tahun 1901. Konsepsi kebijakan itu pada dasarnya meliputi dua elemen, yakni, etika Kristen dan kewajiban Belanda terhadap rakyat negeri jajahan, termasuk Indonesia.

Politik Etis ini dapat ditelusuri dari diskusi publik yang diselenggarkan di akhir 1890-an di Belanda tentang kewajiban negara Belanda melindungi ”rakyat di Jawa yang menentang penindasan. Pada tahun 1889 seorang anggota parlemen, C. Th. van Denventer, mengatakan bahwa Belanda mendapatkan keuntungan finansial besar yang diperolehnya dari sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel, 1830-1870) di Jawa. Menurut van Denventer, saatnya Belanda mengembalikan keuntungan finansial tersebut untuk penduduk lokal (pribumi).

Tujuan dari Politik Etis saat itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk Indonesia. Pemerintah Belanda melakukan intervensi langsung ke dalam kehidupan ekonomi masyarakat mewujudkan tujuan balas budi melalui tiga progam, antara lain: irigasi, edukasi, dan migrasi.

Pembangunan irigasi yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Imigrasi penduduk ke luar Pulau Jawa untuk penyebaran yang lebih merata dan mengurangi tekanan kepadatan penduduk di Jawa. Memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat Indonesia untuk mendapat pendidikan yang layak, pelatihan keahlian untuk menjalankan perusahaan kolonial, dan perkenalan langsung dengan peradaban Barat. Politik Etis bahkan diklaim memberikan perlindungan administrasi dan hukum bagi penduduk Indonesia, melawan efek negatif dari kolonialisme (Garin dan Dyna, 10).

Sejarah Masuknya Film; Wayang, Komedi Stambul, Hingga Film Cerita

Jauh sebelum kehadiran film, masyarakat Hindia Belanda telah akrab dengan berbagai tontonan seni pertunjukan seperti wayang, komedi stambul, dan teater. Popularitas kesenian tersebut muncul bersamaan dengan modernisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda atas dasar Politik Etis (balas budi) (Garin dan Dyna, 19).

Wayang

Sejarah Film sebagai bentuk seni yang diproyeksikan sering dikaitkan dengan aspek formula wayang kulit, terlebih pada masa film bisu ketika musik pengiring film adalah musik hidup dalam gedung bioskop.

Hal tersebut bisa dilihat dari aspek continuity masuknya tokoh ke dalam layar. Bahkan juga teknik close dan long shot dengan mendekatkan wayang ke cahaya ataupun aspek tata cahaya khususnya penggunaan bayangan. Oleh karena itu, sejarah film di Indonesia khususnya di Pulau Jawa tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan wayang sebagai tontonan rakyat yang sangat populer.

Apabila dilihat dari definisinya, wayang dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi) berarti ”bayangan’ atau ”pertunjukan bayangan”. Selain itu, kata wayang juga berarti ”manusia”. Jenis wayang ada dua yakni, wayang kulit dan wayang wong. Wayang kulit merupakan pertunjukan wayang yang mempertunjukkan kisah yang diperankan oleh boneka-bonekadari kulit, sedangkan wayang wong adalah pertunjukan yang aktor-aktrisnya diganti dengan manusia (Garin dan Dyna, 12).

Komedi Stambul

Hindia Belanda kaya dengan beragam bentuk kesenian. Di Jawa, wayang orang menjadi pertunjukan paling populer di awal abad ke-20. Di saat yang hampir bersamaan, masyarakat urban di Jawa disuguhi dengan kehadiran kelompok-kelompok komedi stambul.

Kata komedi (bukan terjemahan dari kata comedy yang berarti humor atau lelucon) berarti pertunjukan, yang juga dapat diartikan berkeliling. Oleh karena itu, kelompok ini melakukan pertunjukan dengan berkeliling dari satu tempat ke tampat lainnya, juga dari kota ke kota.

Stambul sendiri memiliki dua arti, pertama, diambil dari kata Istambul asal berbagai cerita yang mereka tampilkan mula-mula meski dalam perkembangannya kisah dipentaskan bisa berasal dari mana saja. Kedua, sebuah jenis pertunjukan samdiwara panggung yang dipentaskan secara berkeliling.

Pada awalnya, kelompok ini muncul di Jawa Timur, tapatnya di pelabuhan Surabaya pada 1891. Kelompok tetaer musikal dikenal dengan nama Komedie Stamboel yang digagas oleh seorang peranakan Eropa barnama August Mahieu dan dibiayai oleh seorang Tionghoa bernama Yap Goan Thay.

Awalnya, kelompok ini hanya tampil di Pecinan. Beberapa bulan setelah didirikan, kelompok ini melakukan pertunjukan keliling di Hindia Belanda. Mahieu menambahkan selera dan orientasi Barat dalam cerita-ceritanya. Para pemain dan musisinya adalah orang-orang Indo atau keturunan Eropa. Mereka menampilkan cerita dalam bentuk tari dan lagu.

Dipelopori oleh bangsa Eropa dan Tionghoa, Komedie Stamboel tumbuh sebagai seni hibrid atau seni kreol dalam dunia pertunjukan. Seni pertunjukan ini melibatkan beragam kebudayaan, diciptakan dan ditonton oleh berbagai ras di Hindia Belanda yang sanggup membeli tiket pertunjukkannya.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Riau, karena Mahieu sesungguhnya mendirikan Komedie Stamboel terinspirasi oleh kelompok Abdul Muluk yang berada di Semenanjung Melayu. Mereka menamakan dirinya Wayang Panggung (Garin dan Dyna, 22-23).

Komedie Stamboel menjadi populer di Jawa karena Mahieu melakukan tur keliling Jawa pada 1891-1892. Perjalanan Mahieu mengikuti jalur kereta api yang menghubungkan 15 kota besar di Jawa. Mahieu bergerak menuju barat melewati Mojokerto, Madiun, Surakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Batavia.

Di kota-kota itu, kehadiran Komedie Stamboel diterima baik oleh masyarakat urban di Jawa. Tentu tidak heran jika kemudian masyarakat pribumi ikut-ikutan mendirikan kelompok serupa. Mereka meniru formula Mahieu yang menampilkan tari kabaret, dansa tango, tablo, dan sejenisnya. Kelompok-kelompok pribumi ini menambahkan kata bangsawan untuk menegaskan bahwa kisah yang mereka tampilkan tentang para bangsawan (Garin dan Dyna, 25).

Film Cerita; Dari Loetoeng Kasaroeng hingga Terang Bulan

Pada akhir tahun 1900, masyarakat Hindia belanda dikejutkan oleh berbagai iklan di surat kabar yang memberi tajuk ”pertunjukan besar yang pertama”. Sebuah sejarah pertunjukan seni baru di mulai.

Mereka menyebut pertunjukan tersebut sebagai ”gambar hidup”, yang tidak lain adalah film. Pemutaran pertunjukan gambar hidup itu berlangsung pada 5 Desember 1900. Menurut iklan di Bintang Betawi edisi 5 Desember 1900, pertunjukan itu disebut ”Pertoendjoekan Besar Yang Pertama”, yakni di Tanah Abang Kebon Jahe (Manage) mulai jam tujuh malam. Harga karcisnya terdiri dari tiga peringkat, senilai f 2 (2 gulden rupiah Belanda) untuk kelas I, f 1 untuk kelas II, dan f 0,50 untuk kelas III.

Bioskop Kebon Djahe mengikuti pola pembagian kelas seperti yang dilakukan dalam pertunjukan komedi stambul dan wayang orang. Pertunjukan dibagi dalam kelas-kelas. Kelas termurah duduk di bangku papan yang berada di deret depan (stalles), tepat di belakang orkes. Penonton juga diberi selebaran yang isinya ringkasan cerita tentang film yang akan diputar (sinopsis film).

Film pertama yang diputar di bioskop Kebon Jahe adalah dokumentasi jepretan-jepretan Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik di Den Haag. Adegan-adegannya dari Perang Boer di Transvaal dan potongan pendek tentang pameran di Paris.

Selang beberapa waktu, mulai didirikan bioskop permanen di kota-kota besar seperti, Jakarta dan Bandung. Bioskop menyasar segmen yang berbeda-beda dari masyarakat kulit putih (Eropa)., Tioghoa, dan pribumi. Maka mulailah film cerita Amerika diimpor.

Film cerita tersebut, lebih disukai penonton karena menampilkan drama tiga babak dengan kisah cinta dan banyak adegan perkelahian. Untuk menarik penonton, pemilik bioskop memberi judul bahasa Indonesia seperti Oedjan Djotosan, Oepahnja Anak Jang Berbakti.

Para penonton lebih suka dengan film cerita daripada dokumentasi. Selera ini sejalan dengan cerita yang ditampilkan dua bentuk seni pertunjukan sebelumnya yakni, komedi stambul dan wayang orang. Hingga kemudian, sejarah film menunjukkan berbagai upaya mencari bentuk dan formula cerita yang mampu menarik penonton. Dari sanalah muncul fenomena yang menjadi lahirnya film cerita pertama yakni, Loetoeng Kasaroeng (Garin dan Dyna, 30-31).

Loetoeng Kasaroeng (1926)

Film Loetoeng Kasaroeng merupakan film cerita pertama yang diproduksi di Hindia Belanda, berlatar cerita legenda Sunda yang sering ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang orang atau sandiwara. Film ini menunjukkan pertemuan antara wayang, sandiwara, dan film, serta persoalan-persoalan daya hidup seni tradisi dalam pertumbuhan kota-kota yang dinamis.

Bupati Bandung, Raden Wiranatakusumah, kala itu, memang terobsesi mengembangkan kesenian Pasundan. Ia mendukung penampilan cerita Loetoeng Kasaroeng dalam bentuk sandiwara yang dipentaskan pada Kongres Jawa 1921. Setelah penampilan itu, banyak orang kembali memainkan lagu-lagu Sunda. Akan tetapi, Bupati belum puas. Lima tahun kemudian, ia bersedia menunjang biaya pembuatan film Loetong Kasaroeng (Garin dan Dyna, 32-33).

Film Loetoeng Kasaroeng (‘The Enchanted Monkey’) yang pertama diproduksi di Hindia Belanda ini, kisahnya berdasarkan kisah romansa legendaris tentang monyet yang benar-benar seorang pangeran, diproduksi dan diarahkan di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1926 oleh seorang Belanda, Heuveldorp, bekerjasama dengan juru kamera Jerman (Hanan, 55).

Film ini menerima dana dari Bupati Bandung, Raden Wiranatakusumah, beserta putrinya dan anggota keluarga lainnya yang muncul di dalamnya, film ini dibuat untuk merayakan tradisi pertunjukan Jawa Barat. Wiranatakusumah lima tahun sebelumnya telah menyelenggarakan sebuah festival besar seni Sunda, sehingga pembuatan Loetoeng Kasaroeng dapat dilihat sebagai kelanjutan dari inisiatif dalam revitalisasi kesenian tradisional Jawa.

Sementara film pertama yang dibuat di Hindia Belanda adalah inisiatif bersama orang-orang Eropa dan Jawa, dan menceritakan kembali legenda lokal dan menggunakan tradisi pertunjukan lokal. Produksi film pada periode pra-kemerdekaan adalah sektor yang sebagian besar dirintis oleh Cina.

Pada tahun 1928, Wong Brothers membuat film produksi China pertama yakni, Lily van Java, yang menampilkan aktor-aktor Cina dalam sebuah cerita tentang perjodohan. Wong Brothers telah bekerja di industri film di Shanghai, tetapi berimigrasi ke Hindia Belanda ketika industri Shanghai tersendat karena persaingan dari film-film dari Amerika Serikat.

Selanjutnya, mereka membuat dua film kejahatan tentang penyamun setempat, Si Tjonat dan Perampok di Preanger (’Perampok dari Priangan’), keduanya dirilis pada tahun 1929. Dengan beberapa selingan, karena kesulitan keuangan, Wong Brothers tinggal di industri untuk jangka panjang (Hanan, 55).

Pada tahun 1929 produser Tionghoa lainnya, Tan Koen Yauw, lahir secara lokal, menghasilkan adaptasi pertama dari cerita populer di Batavia abad ke-19 yakni, Njai Dasima, tentang nasib buruk istri pribumi seorang Inggris, yang diteror oleh pemeras. film ini diikuti oleh dua sekuel yang juga diproduksi oleh Tan. Salah satunya disutradarai pada 1932 oleh aktor dan jurnalis Sumatera Barat, Bachtiar Effendy. Tan Koen Yauw juga memproduksi film fitur pertama yang dibuat di luar Jawa, Melatie van Agam (1930), yang termasuk pekerjaan lokasi mahal di Sumatera Barat dan penggunaan aktor dari perusahaan teater Padang setempat.

Produsen Cina yang paling sukses adalah The Teng Chun. Lahir di Batavia pada tahun 1902, The Teng Chun pergi ke sekolah menengah di Amerika Serikat. Tertarik dengan pembuatan film. Pada tahun 1925 ia pergi ke Shanghai untuk mendapatkan pengalaman dalam industri di sana, dan membujuk ayahnya di Batavia untuk menjadi pengimpor film dari Shanghai, daripada mengekspor hasil pertanian dari Jawa. Sepulangnya dari Shanghai ia mendirikan perusahaan produksi, membuat film pertamanya pada tahun 1931, film suara awal yakni, Boenga Roos Dari Tjikembang (‘The Rose of Tjikembang’). Cerita untuk film ini didasarkan pada kisah romansa peranakan (Tionghoa Indonesia) dalam beberapa generasi keluarga selama bertahun-tahun, berakhir dengan perkawinan antar ras antara seorang pria Tionghoa dan seorang wanita Jawa.

Karena kualitas suaranya yang buruk, film ini tidak berhasil, tetapi The Teng Chun dengan cepat menemukan formula yang paling memuaskan untuk menarik penonton di Jawa pada saat itu. Dengan membuat cerita hantu Cina yang termasuk adegan seni bela diri. The Teng Chun memproduksi dan menyutradarai 11 dari 13 film yang diproduksi di Jawa pada tahun 1933 hingga 1937. Pada tahun 1935 ia mengubah nama perusahaannya dari ’Cino Motion Pictures’ ke ’Java Industrial Film’ dan membangun sebuah studio dekat rumahnya di Batavia Utara. The Teng Chun menjadi produser yang membuat film paling banyak di Hindia Belanda sebelum tahun 1950, menggunakan berbagai nama perusahaan (Hanan, 56).

Terang Bulan

Film Terang Bulan ini merupakan gubahan dari sutradar Albert Balink yang merupakan seorang jurnalis Belanda. Namun, sebelum munculnya film Terang Bulan ini, terjadi sejarah panjang hingga film ini dapat ditonton oleh khalayak ramai.

Pada tahun 1930-an lebih banyak orang Eropa berkelana ke produksi film di Hindia Belanda, terutama Philip Carli, yang pada awal 1930-an membuat film-film yang dibintangi istri Eurasia, dan Albert Balink, yang datang ke Hindia pada pertengahan 1930-an. Dalam setiap kasus, keterlibatan mereka dengan industri ini cukup singkat, tetapi Balink-lah yang merupakan inovator utama. Pertama, pada tahun 1935 memproduksi fitur fiksi-dokumenter, Pareh (’Padi’) dan pada tahun 1937 memproduksi film fitur terobosan bersama dengan Wong Brothers, Terang Bulan (Hanan, 57).

Albert Balink dan Wong Brothers membentuk perusahaan baru, yakni ANIF (Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat) pada tahun 1935, dan membawa pembuat film dokumenter Belanda bernama Mannus Franken, untuk syuting film Pareh (‘Padi’). Film ini, dengan target penontonnya dari tanah air Belanda dan kerangka orientalis Barat yang dapat diprediksi, meskipun secara teknis lebih baik dari film-film sebelumnya, tidak berhasil di Jawa maupun di Belanda (Hanan, 59). Ketidak-berhasilan film Pareh ini pun menjadi sebuah pembelajaran bagi Albert Balink sehingga dia, yang pandai dalam berbicara bisa meyakinkan pemodal atas keinginannya dalam pembuatan film Terang Bulan.

Albert Balink merekrut Saeroen untuk menyempurnakan bahasa Indonesia dalam skenario. Sehingga Terang Bulan yang skenarionya diramu oleh penulis seorang wartawan, Saeroen menjadi bumbu hiburan yang tepat. Kerena ia aktif mengamati dan hidup dalam dunia tonil, ia punsangat fasih mengelola cerita roman picisan yang dibalut dengan nyanyian, lawak, dan roman yang layaknya dipanggung tonil saat itu. Bintang film utamanya, seperti Roekiah juga merupakan penyanyi dan pemain tonil populer (Garin dan Dyna, 48).

Film Terang Bulan ini, mendapatkan dana dari Belanda. Terang Bulan sangat dipengaruhi oleh film Hollywood yang sangat populer di Jawa pada saat itu, The Jungle Princess (1936), film terobosan eksotis Dorothy Lamour, diproduksi oleh Paramount, dan berlatar di Malaya, dengan Lamour sebagai putri hutan yang dibesarkan oleh alam—memakai sebuah sarung dan bahkan berbicara beberapa baris dalam bahasa Melayu—yang menarik minat pemburu Amerika yang mengunjungi Malaya. Dalam kasus Terang Bulan, meskipun beberapa adegan dibuat di Malaya, film ini menampilkan pulau tropis fiksi—dibandingkan keindahannya dengan Hawaii dalam periklanan untuk film—dan lagu-lagu Amerika yang dinyanyikan oleh Dorothy Lamour di The Jungle Princess digantikan oleh keroncong Jawa yang sangat melodis dinyanyikan oleh bintang film, kelahiran Jawa Barat, Roekiah (Hanan, 58). Maka tak heran jika Terang Bulan juga menampilkan kostum a la Hawaii (Garin dan Dyna, 48).

Peru dicatat bahwa Terang Bulan yang lahir di tengah krisis ekonomi dunia, justru melahirkan awal dari dunia kebintangan film seperti Roekiah dan Raden Mochtar. Terang Bulan tidak hanya meledak di pasar penonton dalam negeri, tapi juga populer hingga ke Sngapura dan Malaysia.

Roekiah, pemeran utama dalam Terang Bulan, menjadi tonggak lahirnya ”bintang film” dalam sejarah Indonesia. Roekiah adalah sebuah potret sejarah keluarga yang menunjukkan transformasi dari pemain panggung ke layar lebar. Suami Roekiah yang bernama Kartolo merupakan seorang pemimpin orkestra yang lagu-lagunya banyak digunakan untuk film (Garin dan Dyna. 49).

Secara signifikan, Terang Bulan dipromosikan sebagai ’Film Indonesia’, bintang-bintangnya diiklankan sebagai ’pemain-pemain bangsa Indonesia pilihan’. Sudut publisitas ini, memunculkan gagasan tentang ras yang khas.

Konklusi

Masuknya film di Indonesia tentunya melewati proses sejarah yang sangat panjang dan penuh dengan gejolak. Namun, dengan adanya Politik Etis (politik balas budi), bangsa Indonesia bisa berkembang. Dalam bidang pendidikan, dengan didirikannya sekolah-sekolah, akirnya membuat bangsa Indonesia tidak melulu buta huruf. Barangkali, politik balas budi inilah yang penguaruhnya sangat signifikan terhadap perkembangan dan sejarah film di Indonesia.

Perlu diingat juga bahwa hadirnya film di Indonesia juga tidak bisa terlepas dari seni pertunjukan yang telah hadir sebelumnya, yakni wayang wong dan komedi stambul. Kedua pertunjukan tersebut merupakan salah satu pintu masuk adanya gambar hidup yang dipertunjukkan di layar lebar. Kedua pertunjukan tersebut juga menginspirasi lahirnya film cerita awal seperti Loetoeng Kasaroeng.

Film, sebagai seni pertunjukan pun tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan kelas atas. Akan tetapi, para pribumi pun bisa menikmati film-film tersebut dengan harga tiket sesuai yang telah ditentukan.


Lisensi

Seluruh konten di halaman ini dilisensikan di bawah naungan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0).

Anda bebas untuk:

Bagikan - salin dan sebarkan materi dalam media atau format apa pun

Adaptasi - remix, transformasikan, dan bangun berdasarkan materi

Pemberi lisensi tidak dapat mencabut kebebasan ini selama Anda mengikuti ketentuan lisensi.

Di bawah ketentuan berikut:

Atribusi - Anda harus memberikan kredit yang sesuai , memberikan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan . Anda dapat melakukannya dengan cara yang masuk akal, tetapi tidak dengan cara apa pun yang menunjukkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.

Nonkomersial - Anda tidak boleh menggunakan materi untuk tujuan komersial.

Suka Berbagi - Jika Anda mencampur, mengubah, atau membuat materi, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama seperti aslinya.

Tidak ada batasan tambahan - Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau tindakan teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan apa pun yang diizinkan lisensi.

Pemberitahuan:

Anda tidak harus mematuhi lisensi untuk elemen-elemen materi dalam domain publik atau di mana penggunaan Anda diizinkan oleh pengecualian atau batasan yang berlaku.

Tidak ada jaminan yang diberikan. Lisensi tidak boleh memberi Anda semua izin yang diperlukan untuk tujuan penggunaan Anda. Misalnya, hak-hak lain seperti publisitas, privasi, atau hak moral dapat membatasi cara Anda menggunakan materi.

Interaksi dengan pos ini

Batal

Berhenti Berlangganan Komentar