Analisis Film: Pendekatan Naratif Christian Metz dan Hubungannya dengan Semiotika

Christian Metz dan Naratif

Sumbangan Metz dalam Teori Film adalah usaha untuk menggunakan, baik Konseptual Linguistik Struktural untuk meninjau kembali Teori Film yang sudah ada, baik yang dalam tahun 1960 membawa kita pada Semiologi Klasik, maupun konsep teoritis Psikoanalisa Freudian-Lacanian untuk generasi kedua Semiologi Sinema pada tahun 1970-an. Dengan kata lain Semiologi Metz yang dianggap jauh lebih “cermat” dari teori/analisa film sebelum dia ini tidaklah berangkat dari yang baru sama sekali.

Semiologi sinema yang dikembangkan Christian Metz, muncul dengan pemikiran baru berkat bantuan Linguistik dengan mengatakan bahwa sinema itu bukanlah “kopi realitas”, melainkan kumpulan sistem tanda audio-visual, konsep yang tentunya memberikan kemungkinan kepada kita untuk menata pemahaman yang lebih ilmiah tentang seluruh fenomena estetika film.

Dari Strukturalisme tersebut, Metz, meminjam dari teori sastra khususnya tentang naratif, Metz dalam bukunya yang berjudul Film Language: A Semiotics Of The Cinema, berpendapat bahwa sebuah naratif memiliki awal dan akhir, sebuah fakta yang secara bersamaan membedakannya dari bagian dunia lainnya dan menentangnya ke dunia ”real” (17). Sebuah permulaan dan akhir, artinya, narasi adalah urutan temporal (temporal sequence) (18).

Salah satu fungsi naratif adalah untuk menciptakan satu skema waktu dalam kerangka waktu lain, dan itulah yang membedakan narasi dari deskripsi sederhana (yang menciptakan ruang dalam waktu), serta dari gambar (yang menciptakan satu ruang di ruang lain) (Metz, 18).

Narasi dan deskripsi memiliki posisi yang sama dengan gambar karena penanda mereka bersifat temporal, dan penanda gambar bersifat instan (19).

Hubungan Naratif dengan Semiotika

Naratif yang sudah diuraikan menggunakan naratologi di atas, tidak hadir sebagai rangkaian peristiwa dengan urutan waktunya, melainkan dalan setiap urutan waktu atau bahkan dalam setiap shot-nya memili makna, baik makna secara denotasi maupun konotasi.

Menurut Christian Metz, di sinema, keseluruhan semiotika, denotasi dalam film adalah narasi itu sendiri, dimensi ruang dan waktu fiktif yang tersirat dalam dan oleh naratif, karakter, rangkaian peristiwa, dan elemen naratif lainnya (Metz, 109).

Sedangkan konotasi membawa kita lebih dekat pada gagasan tentang sinema sebagai seni (”seni ketujuh”). framing, camera movement, dan efek, atau dengan ringkasnya biasa disebut dengan mise-en-scene merupakan konotasi dari film (108).

Sedangkan menurut Roland Barthes, dalam bukunya Element of Semiology, mengatakan bahwa denotasi adalah sistem pertama yakni, sebagai penanda. Sedangkan konotasi merupakan sistem kedua, yakni sebagai yang ditandai (89).

Sebenarnya, apa yang dikemukakan oleh Metz dan Barthes, adalah sama. Bahwa denotasi merupakan apa yang terlihat, sedangkan konotasi sebagai sistem kedua, memiliki makna yang tak terlihat, tidak langsung.

Jadi, denotasi dalam film Our Little Sister ini adalah naratif dan audio-visualnya itu sendiri. Sedangkan konotasinya, bisa dilihat dari mise-en-scene film.

Sebagi contoh, penggunaan sebuah kereta api dalam film ini. Jika dilihat secara denotatif, kereta api tersebut hanya bermakna sebagai alat transportasi untuk yang digunakan karakter untuk berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Sedangkan jika dilihat secara konotatif, kereta api yang ditampilkan hanya transit sejenak di stasiun, setelah penumpang naik, kereta tersebut singgah ke stasiun lain.

Persinggahan kereta api yang sejenak itu merepresentasikan tentang cerita film tersebut. Bahwa, dalam film ini, menceritakan tentang keluarga yang tercerai berai, karena ayahnya menikah hingga tiga kali. Persinggahan pertama ayahnya, di istri yang pertama dengan anak yang bernama Sachi, kemudian persinggahan yang kedua dengan istri yang kedua, dengan meninggalkan anak Yochan dan Chika. Dan persinggahan yang terakhir yakni, pada istri ketiga yang meninggalkan anak bernama Suzu. Bahkan dalam acara kematian pun bergiliran. Pertama, singgah di istri yang terakhir, di mana acara kematian tersebut adalah awal mula ayahnya meninggal dunia. Acara kedua dan ketiga, berada di tempat pemakaman.

Ruang makan. Adalah sebuah ruang yang juga menjadi simbol selain kereta api di atas. Ruang makan, jika dilihat secara denotatif, hanyalah sebuah ruang yang digunakan untuk makan. Lain halnya jika dilihat secara konotatif, ruang makan memiliki makna yang lebih dari sekadar ruang yang digunakan untuk makan.

Ruang maka dalam film, begitu sering repetisi dengan cara-cara yang berbeda-beda. Ruang makan di sini menjadi pusat segala kegiatan dilakukan oleh karakter. Menunggu satu anggota yang belum pulang, di ruang makan. Bercanda atau bahkan belajar, juga di ruang makan. Ruang makan di sini adalah yang paling bersifat domestik. Makna konotasinya yakni, mereka berempat, dengan ibu yang berbeda, namun, dengan ayah yang sama, memiliki cerita tentang resep nenek moyang atau sekadar makanan kesukaan ayah. Dan hal inilah yang membuat mereka yang berbeda ibu ini bisa saling akur dan saling mengasihi.

Selain itu kedua contoh di atas, ada pula makna denotasi dan konotasi lainnya. misalnya seperti gambar di bawah ini:

Dilihat secara denotatif, gambar tersebut hanya bermakna sebuah coretan di papan kayu. Konotatifnya, bahwa papan kayu dengan coretan yang ada angkanya tersebut merupakan tempat Sachi untuk mengukur tinggi badan, mulai dari Sachi masih kecil, kemudian ada Chika dan Yochan yang berumur 12 tahun dan tambah terus, hingga kemudian datanglah Suzu, yang berumur 15 tahun. Papan tersebut berada di rumah neneknya yang mereka tempati.

Dengan demikian, bisa memberi makna bahwa mereka telah lama tinggal di rumah itu, dan sudah lama pula mereka berpisah dari orangtua. Selain itu, sudah tua pula rumah yang mereka tempati.

Kesimpulan

Meskipun film meminjam ilmu lain, namun dengan begitu dia bisa menghasilkan sebuah gambar bergerak yang memiliki cerita dengan kausalitasnya dan juga bisa menghasilkan persepsi-persepsi baru dengan tanda atau simbol yang telah didesain oleh sutradara.

Naratif dalam film, ternyata tidak hadir begitu saja. Naratif dalam film juga dihadirkan dengan tanda-tanda atau simbol-simbol, guna menciptakan bahasa filmis dan estetika. Sehingga, tanda-tanda atau simbol-simbol itu sengaja diciptakan oleh sutradara bagi penonton, dan lalu penonton menerima dan membaca tanda tersebut sehingga menimbulkan persepsi-persepsi baru.

Apa yang dikatakan Metz, bahwa shot sebenarnya lebih dekat dengan kalimat daripada kata, bisa dibilang benar. Karena hanya dengan satu shot saja, sudah bisa menceritakan sesuatu, entah itu menceritakan sebuah ekspresi, waktu, ataupun elemen naratif lainnya, dan untuk menceritakan satu shot tersebut, barangkali bisa mencapai satu kalimat lebih. Dan hanya dengan satu shot, sudah bisa menghasilkan sebuah makan, baik makna denotatif maupun konotatif.

———

Lisensi

Seluruh konten di halaman ini dilisensikan di bawah naungan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0).

Anda bebas untuk:

Bagikan - salin dan sebarkan materi dalam media atau format apa pun

Adaptasi - remix, transformasikan, dan bangun berdasarkan materi

Pemberi lisensi tidak dapat mencabut kebebasan ini selama Anda mengikuti ketentuan lisensi.

Di bawah ketentuan berikut:

Atribusi - Anda harus memberikan kredit yang sesuai , memberikan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan . Anda dapat melakukannya dengan cara yang masuk akal, tetapi tidak dengan cara apa pun yang menunjukkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.

Nonkomersial - Anda tidak boleh menggunakan materi untuk tujuan komersial.

Suka Berbagi - Jika Anda mencampur, mengubah, atau membuat materi, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama seperti aslinya.

Tidak ada batasan tambahan - Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau tindakan teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan apa pun yang diizinkan lisensi.

Pemberitahuan:

Anda tidak harus mematuhi lisensi untuk elemen-elemen materi dalam domain publik atau di mana penggunaan Anda diizinkan oleh pengecualian atau batasan yang berlaku.

Tidak ada jaminan yang diberikan. Lisensi tidak boleh memberi Anda semua izin yang diperlukan untuk tujuan penggunaan Anda. Misalnya, hak-hak lain seperti publisitas, privasi, atau hak moral dapat membatasi cara Anda menggunakan materi.

Interaksi dengan pos ini

Batal

Berhenti Berlangganan Komentar