Multikulturalisme Sebagai alat Kepengarangan dalam Film

Kepengaran dalam sebuah film, sampai saat ini masih menjadi sebuah perdebatan. Yang dimaksud dengan kepengarangan (auteur) dalam film adalah seorang sutradara, sutradara dengan filmnya, ataukah siapa. Namun, tampaknya ukuran sebuah kepengarangan barangkali terletak pada seberapa komitmen seorang sutradara atas film-film yang dibuatnya. Baik komitemen dalam hal mise-en-scene ataupun yang lainnya.

Apalagi sekarang begitu banyak sutradara, akan tetapi dia tidak memiliki komitmen atas film-film yang dibuatnya. Justru mereka ini lebih mementingkan produksi sebuah film sebagai bisnis, daripada untuk kualitas film itu sendiri dan label auteur bagi sutradaranya. Akan tetapi, masih banyak juga sutradara-sutradara yang lebih mementingkan kualitas film dan label auteur tersebut. barangkali, mereka ini memang ingin menciptakan representasi yang baru. Meskipun kebaruan tersebut bersifat diulang-ulang, tapi, pasti ada sesuatu yang menonjol.

Dalam film berjudul ”Heremakono (Waiting for Happiness)” karya dari Abderrahmane Sissako ini, meskipun barangkali memiliki suatu kesamaan dengan sutradara lainnya, namun, film-filmnya, salah satunya Heremakono ini memiliki ciri khas yang spesifik. Ciri yang menonjol dalam film adalah tentang multikulturalisme dan budaya Afrika dan Arab.

Film berjudul ”Heremakono (Waiting for Happiness)”, 2003, karya dari Abderrahmane Sissako, menceritakan tentang daerah Nouadhibou, sebuah desa kecil di pesisir Mauritania.

Dalam film ini, terdapat seorang protagonis bernama Abdallah. Tokoh ini merasa asing di tempat kelahirannya sendiri yakni, di Nouadhibou. Dia tidak bisa berbicara dengan bahasa di tempat tersebut, dia hanya bisa berbicara dengan bahasa Prancis. Dia lebih memilih diam dan menyendiri. Sekalinya keluar, paling dia hanya pergi ke tempat makan. Selain itu, dia hanya di rumah membaca buku.

Selain dalam hal bahasa, Abdallah pun tidak pernah memakai pakaian lokal. Meskipun ibunya selalu menyuruh untuk memakai pakaian lokal, namun, dia tetap memakai pakaian seperti orang Eropa: celana, sepatu, dan kemaja.

Di depan jendela kamar tersebut, dia melihat seorang wanita kulit Hitam yang tampak bisa berbahasa Prancis. Setiap hari, ketika dia di kamar membaca buku, dia selalu mengintai perempuan ini. Bahkan dia pun mengintai siapa saja orang yang pernah masuk ke rumah perempuan tersebut.

Di saat itu pula, dia bertemu anak kecil bernama Khatra. Khatra merupakan anak yang tinggal dan selalu membantu Maata dalam bidang listrik. Dengan Khatra ini, Abdallah diajari bahasa lokal, daerah Nouadhibou. Dia tidak ajari bahasa yang terlalu rumit oleh Khatra. Hanya diajari bahasa dasar seperti, hidung, mata, telinga, perut, dan lain sebagainya.

Ketika dia menelisik tentang perempuan yang selalu diintainya dari jendela kamarnya, perempuan itu bernama Nana. Nana berasala dari Nouadhibou, tapi dia pernah di Eropa, tepatnya di Prancis. Abdallah pun akhirnya bertemu dengan Nana. Baru pertama kali mereka bertemu, Nana menceritakan tentang masa lalunya saat di Prancis.

Singkat cerita, karena Abdallah merasa menjadi orang terasing di tempat kelahirannya sendiri, akhirnya dia pun beremigrasi ke Eropa kembali.

Dalam film ini, Abderrahmane Sissako menceritakan tentang budaya multikulturalisme. Bukan hanya budaya Afrika, namun juga ada budaya arab dan Eropa yang dipadukan dalam film ini. Film ini juga, tidak terus-menerus menghadirkan keterasingan, bahasa yang berbeda-beda, akan tetapi juga menyajikan adegan-adegan yang diselingi humor, mise-en-scene yang khas, dan penggunaan plot yang tidak rumit. Meskipun ada adegan yang disajikan dengan flashback, namun, flashback di dalam film ini bukan yang utama. Secara keseluruhan film ini menggunakan alur maju.

Multikulturalisme yang disajikan oleh Sissako ini mungkinkah bisa disebut bahwa Sissako merupakan seorang Auteur? Jika dilihat dalam film yang berjudul Heremakono ini, di manakah letak auteur terhadap sutradara Abderramane Sissako? Komitmen apa saja yang disuguhkan Sissako dalam film-filmnya? Lalu bagaimana ciri khas tersebut ditampilkan di dalam film-filmnya?

Multikulturalisme

Multikulturalisme secara tradisional telah dibicarakan dari perspektif ”top-down” sebagai seperangkat kebijakan yang berkaitan dengan manajemen dan pertahanan keanekaragaman oleh negara-negara, dengan fokus yang khas pada hak-hak berbasis kelompok dan pemeliharaan budaya (Wise 2009: 2).

Multikulturalisme dalam film ini, jika dilihat lagi, dia merepresentasikan sebagai pemeliharaan budaya. Abdallah, sebagai karakter utama yang tidak bisa berbahasa lokal dan tidak mau mengenakan pakaian lokal pula, oleh ibunya, dia terus diajarkan agar memakai pakaian lokal. Akhirnya Abdallah pun mau mengenakan pakaian lokal sesekali dan itu pun hanya di dalam kamar.

Gambar di atas merupakan potret Abdallah ketika mengenakan pakaian lokal. Dalam adegan tersebut dia sedang membaca buku di bawah redupnya cahaya bulan. Kehidupan di daerah Nouadhibou ini direpresentasikan sebagai daerah terpencil. Jadi, setiap rumah yang menggunakan lampu dengan aliran listrik masih sedikit.

Selain dalam hal pakaian, pemeliharaan budaya lain yang direpresentasikan dalam film ini adalah agar tidak melupakan bahasa lokal. Hal ini ditunjukkan dalam adegan ketika Khatra mengajari Abdallah bahasa lokal.

Gambar di atas merupakan representasi dari sebuah adegan ketika Khatra mengajari Abdallah bahasa lokal. Anak kecil itu mengajarinya dimulai dengan bahasa yang sangat dasar seperti, mata, hidung, alis, telinga, mulut, dan lain sebagainya.

Dengan ajaran-ajaran tersebut, perilaku Abdallah pun sedikit terekonstruksi. Sehingga dia yang merasa asing mencoba membaur dengan penduduk lokal dan penduduk di daerah tersebut pun menerima dia. Hanya saja meskipun demikian, dia masih merasa asing dan tidak dikenal. Dalam hal ini dia merasa menjadi kelompok yang minoritas.

Pengkategorian kaum minoritas: model-model multikulturalisme Barat dan hak-hak minoritas telah diadopsi sebagai tanggapan terhadap tuntutan jenis-jenis kelompok tertentu. Dalam teori multikulturalisme Barat, adalah umum untuk membedakan indigenous peoples, national minorities, immigrant groups (Kymlicka 2005: 11).

Kenapa Abdallah menjadi seperti orang asing dalam daerah sendiri, karena dia awalnya imigran dari Eropa. Di Eropa tersebut barangkali dia sudah terkonstruksi dengan budaya-budaya Eropa. Jadi, ketika dia kembali ke daerah asalnya, dia sudah tidak kenal lagi dengan budayanya sendiri. Sehingga hal tersebutlah yang menjadikannya merasa asing dan termarjinalkan.

Multikulturalisme terkait erat dengan ”politik identitas”, ”politik perbedaan” dan ”politik pengakuan”; mereka semua berbagi komitmen untuk menilai kembali identitas yang tidak dihargai dan mengubah pola representasi dan komunikasi dominan yang meminggirkan kelompok-kelompok tertentu (Bevir 2010: 908).

Namun, secara keseluruhan dalam film ini, multikulturalisme diangkat sebagai tema karena adanya ”politik identitas”, ”politik perbedaan” dan ”politik pengakuan”. Film ini barangkali mencoba merepresentasikan tentang kelompok minoritas. Bahwa selama ini budaya yang selalu diagung-agungkan adalah budaya Barat.

Sutradara film ini merupakan imigran dari Prancis. Kendati begitu dia tak memarjinalkan budaya lain. Justru di sini dia menjadikan multikulturalisme sebagai politik identitas, di mana selama ini budaya di Afrika seperti tak dihargai. Sutradara dalam film ini dalam menggunakan multikulturalisme juga ingin mendekonstruksi tentang pemahaman bahwa dominan telah memarjinalkan kaum minoritas.

Auteur

Politique des auteurs—teori auteur, seperti yang dikatakan Andrew Sarris—dikembangkan oleh kelompok kritikus yang menulis untuk Cahiers du Cinema dan menjadikannya sebagai majalah film terkemuka di dunia. Ini bermula dari keyakinan bahwa film Amerika layak untuk dipelajari secara mendalam, bahwa mahakarya dibuat tidak hanya oleh sedikit bagian atas dari sutradara, budaya komersial, tetapi oleh berbagai macam penulis, yang karyanya sebelumnya telah diberhentikan dan diserahkan agar dilupakan (Wollen 1998: 50).

Ada kondisi-kondisi khusus di Paris yang memungkinkan keyakinan ini. Pertama, ada fakta bahwa film-film Amerika dilarang dari Prancis di bawah pemerintahan Vichy dan Pendudukan Jerman. Akibatnya, ketika mereka muncul kembali setelah Pembebasan, mereka datang dengan kekuatan—dan dampak emosional—yang tentu saja hilang di negara-negara Anglo-Saxon itu sendiri. Dan, kedua, ada gerakan Cine-Club yang berkembang pesat, sebagian karena hubungan dekat yang selalu ada di Prancis antara sinema dan kaum intelektual.

Meskipun auteur adalah istilah yang berasal dari tahun 1920-an dalam tulisan-tulisan teoretis kritikus dan sutradara film Prancis, perlu disebutkan bahwa di Jerman, sejak tahun 1913, istilah Autorenfilm (penulis film) sudah diciptakan. Autorenfilm muncul sebagian sebagai tanggapan terhadap Film Prancis d'Art yang dimulai pada tahun 1908. Istilah Autorenfilm di Jerman ini dikaitkan dengan masalah polemik mengenai masalah kepenulisan. Penulis untuk screen berkampanye terhadap hak mereka atas apa yang disebut Autorenfilm dan untuk mempertaruhkan klaim mereka tidak hanya untuk naskah, tetapi juga untuk film itu sendiri. Dengan kata lain, film itu harus dinilai sebagai karya penulis daripada orang yang bertanggung jawab untuk mengarahkannya (Hayward 2013: 27).

Di Prancis, konsep auteur (pada 1920-an) datang dari arah lain, yaitu bahwa pembuat film adalah auteur—terlepas dari asal-usul naskahnya. Selama 1920-an, perdebatan di Prancis terpusat pada auteur (art cinema) versus film yang dipimpin skenario (yaitu, film-film yang skenarionya ditugaskan oleh studio yang kemudian ditunjuk sutradara). Perbedaan ini dimasukkan ke dalam debat high art/low art yang telah dimulai sejak 1908. Jadi, pada tahun 1920-an, dalam teori film, film-film auteur memiliki nilai lebih, jika tidak lebih dari adaptasi sastra kanonik juga memiliki nilai lebih dari adaptasi fiksi populer (Hayward 28).

Setelah tahun 1950, dan setelah esai yang ditulis oleh Alexandre Astruc ’Naissance d'une nouvelle avant-garde: la Caméra-stylo/Birth of a New Avant-Garde: the camera-stylo’ (L’Écran français, 1948), debat ini dipopulerkan kembali—yang pada akhirnya menghasilkan tentang melenyapkan masalah high-art/low-art (Hayward 28).

Istilah teori auteur yang muncul pada 1960-an sebagai kesalahan penerjemahan oleh kritikus film Amerika Andrew Sarris. Apa yang telah menjadi polemik sekarang menjadi teori yang sepenuhnya meledak. Sarris menggunakan auteurisme untuk tujuan nasionalistik dan chauvinistis untuk mengangkat sinema Amerika/Hollywood ke status satu-satunya sinema yang baik. Sebagai akibat dari penyalahgunaan istilah ini, sinema dibagi menjadi sebuah kanon dari sutradara yang baik atau yang hebat dan yang lainnya. Namun, dampak kajian budaya pada studi film, pada akhir 1970-an, dan perkembangan dalam teori film sejak itu telah berfungsi untuk memperbaiki ketidakseimbangan ini (Hayward 30).

Perkembangan sejarah teori auteur menghasilkan perubahan yang begitu signifikan. Pada tahun 1950-an, auteur masih menjadi pusat dan menjadi produsen makna, kemudian pada tahun 1960-an, auteur berkembang menjadi lebih terstruktur, meski di tahun ini belum ada keterlibatan dengan penonton, hingga pada tahun 1970-an akhirnya auteur berkembang dengan berkaitan antara auteur dan penonton.

Dalam film ini, bukan lagi auteur yang memproduksi makna, namun, sudah ada keterlibatan antara pembuatan film dengan penonton. Pembuat film bukan hanya menghadirkan teks saja, akan tetapi sudah ada konteks-konteks lain seperti, semiotik, yang dapat menghasilkan makna baru.

Sedangkan dalam hal semiotik, pembuat film merepresentasikan sebuah simbol multikulturalisme dengan adanya White people dan Black people. Dari representasi tersebut sudah mengahsilkan adanya oposisi antara hitam dan putih, antara penduduk asli dan bukan penduduk asli.

Dengan adanya hal-hal tersebut, kemudian penonton membaca makna apa yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Bukan lagi pembuat film yang menghasilkan makna. Interpretasi dari penonton pun akhirnya bermunculan. Tidak lagi sebuah makna dihasilkan dari satu orang, melainkan setiap orang bisa memaknai sebuah teks.

Sutradara dalam film ini tidak menggurui melalui karakter utama yang ditampilkan. Justru dengan adanya karakter utama yang datang dari Eropa, seperti ingin menunjukkan sebuah sindiran bahwa Eropa pun bisa menjadi kelompok yang marjinal. Meskipun karakter utama ini mau mempelajari budanya, namun pada kahirnya dia kembali lagi ke Eropa.

Konklusi

Abderrahmane Sissako dalam filmnya yang berjudul ”Heremakono (Waiting for Happiness)”, 2003, bisa disebut bahwa sutradara dalam ini merupakan seorang auteur selama dia berkomitmen dengan elemen-elemen yang ada di filmnya: setting padang pasir atau gurun di daerah terpencil, multikulturalisme, mise-en-scene, ataupun sistem naratifnya yang sederhana.

Letak kepengarangan dalam film ini barangkali dalam penyajian multikulturalisme, dengan setting di daerah terpencil. Dengan kata lain, kontkes tentang kebudayaan yang ditawarkan oleh Sissako tersebutlah yang menjadi ciri atau signature dalam filmnya.

Kemudian, ciri khas yang ditawarkan tersebut: multikulturalisme, ditampilkan dengan struktur naratif yang sederhana, dengan karakter Black people dan White people, sutradara mampu menyampaikan filmnya kepada penonton dengan tanpa menggurui.

Di film ini, Sissako menjadikan multikulturalisme bukan sebagai pemberontakan atas penduduk Afrika, melainkan hanya sebagai politik identitas agar kelompok yang termarjinalkan tersebut dihargai. Karena mereka sama-sama memiliki budayanya dan sistemnya sendiri. Pun, dengan multikulturalisme ini, barangkali dijadikan pembuat film sebagai alat untuk menunjukkan signature-nya atas kepengarangan dalam film-filmnya.


Lisensi

Seluruh konten di halaman ini dilisensikan di bawah naungan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0).

Anda bebas untuk:

Bagikan - salin dan sebarkan materi dalam media atau format apa pun

Adaptasi - remix, transformasikan, dan bangun berdasarkan materi

Pemberi lisensi tidak dapat mencabut kebebasan ini selama Anda mengikuti ketentuan lisensi.

Di bawah ketentuan berikut:

Atribusi - Anda harus memberikan kredit yang sesuai , memberikan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan . Anda dapat melakukannya dengan cara yang masuk akal, tetapi tidak dengan cara apa pun yang menunjukkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.

Nonkomersial - Anda tidak boleh menggunakan materi untuk tujuan komersial.

Suka Berbagi - Jika Anda mencampur, mengubah, atau membuat materi, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama seperti aslinya.

Tidak ada batasan tambahan - Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau tindakan teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan apa pun yang diizinkan lisensi.

Pemberitahuan:

Anda tidak harus mematuhi lisensi untuk elemen-elemen materi dalam domain publik atau di mana penggunaan Anda diizinkan oleh pengecualian atau batasan yang berlaku.

Tidak ada jaminan yang diberikan. Lisensi tidak boleh memberi Anda semua izin yang diperlukan untuk tujuan penggunaan Anda. Misalnya, hak-hak lain seperti publisitas, privasi, atau hak moral dapat membatasi cara Anda menggunakan materi.

Interaksi dengan pos ini

Nawa Dasa Satsata

Menarik sekali perbincangan mengenai pengarang atau auteur dalam film. Yang saya pertanyakan, apakah bisa menilai auteur dengan kajian budaya? Bukan dari bentuk film itu? Sedangkan multikulturalisme adalah ranah kajian budaya. Atau bagaimana?

Jumat, 22 November 2019 21.04.00 WIB

Balas Hapus

Nurbaiti Fitriyani

Bisa saja, selama pola ikonografi serta naratifnya berulang dan dapat dilihat secara filmis. Multikulturalisme dalam karya Heremanoko, menurut saya struktur ikonografi serta naratifnya berpola yang sama, meski kebudayaan yang diangkatnya berbeda.

Jumat, 22 November 2019 21.12.00 WIB

Balas Hapus

Nurbaiti Fitriyani

Maaf salah ketik. *Heremakono

Jumat, 22 November 2019 21.25.00 WIB

Balas Hapus

Padma Aksara Barya

Wah, aku menunggu esai auteur untuk film Indonesia dari Kak Baiti, dong.

Jumat, 22 November 2019 21.11.00 WIB

Balas Hapus

Nurbaiti Fitriyani

Terimakasih atas antusiasnya. Namun sepertinya dari pengamat atau pengkaji film Indonesia di Indonesia sudah banyak. 😊

Jumat, 22 November 2019 21.14.00 WIB

Balas Hapus

Maulida Dzul Fikri

Nanti jadi ruwet nggak apa yang dipermasalahkan oleh Mas Nawa? Kan film punya teori sendiri? Kok arahnya ke kajian budaya?

Jumat, 22 November 2019 21.16.00 WIB

Balas Hapus

Nurbaiti Fitriyani

Meski film punya teori sendiri, antara satu ilmu dengan lainnya saling pinjan-meminjam kan tidak menimbulkan dosa. Saling mengisi satu sama lain. Kalau masalah ruwet atau tidak, menurut saya tergantung yang menganalisis dan membaca. 😊

Jumat, 22 November 2019 21.20.00 WIB

Balas Hapus

Nawa Dasa Satsata

Saya sependapat dengan Mas Fikri. Bahwa film adalah ranah lain dari kajian budaya. Kenapa tidak bahas auteur dari koridor estetika film saja? Kan lebih menarik, Mbak.

Jumat, 22 November 2019 21.20.00 WIB

Balas Hapus

Nurbaiti Fitriyani

Kalau secara estetika sepertinya sudah banyak yang menganalisis. Dan di dalam karya Heremakono yang menarik dibincangkan dari segi konteksnya. Soalnya dari konteks multikultural itulah yang berkilindan di dalam filmnya.

Jumat, 22 November 2019 21.24.00 WIB

Balas Hapus

Nawa Dasa Satsata

Bagaimana menentukan menarik atau tidaknya sebuah film untuk tidak dibahas secara estetika? Menarik artinya tulisan ini bertendensi terhadap rasa pembacaan teks, bukan telaah atau kajian.

Sabtu, 23 November 2019 06.31.00 WIB

Balas Hapus

Ahmad Arif

Bagi saya tidak ada yang absolut dalam berteori. Seperti halnya Mbak Baiti, Mas Nawa juga bisa memperbincangkan film ini dengan teori lain, estetika misalnya. Karena tulisan di atas adalah sumbangsih terhadap teks film. Bahwa film ini melahirkan interteks lain. Jangan kaku 'lah dalam berteori.

Sabtu, 23 November 2019 06.38.00 WIB

Balas Hapus

Padma Aksara Barya

Saya juga sependapat dengan Bung Arif. Kajian sinema toh tidak akan menjadi monoton pada akhirnya. Karena, ilmu pengetahuan berkembang.

Sabtu, 23 November 2019 06.42.00 WIB

Balas Hapus

Padma Aksara Barya

Aku nyimak saja, pendatang baru nih.

Sabtu, 23 November 2019 06.46.00 WIB

Balas Hapus

Nurbaiti Fitriyani

Terima kasih semua telah berkunjung dan sedia membaca konten di web ini. Saya harap web ini bisa menjadi media untuk berdiskusi bagi kalangan pecinta film dan teorinya. Salam ��

Sabtu, 23 November 2019 06.49.00 WIB

Balas Hapus

Batal

Berhenti Berlangganan Komentar