Analisis Film: Kewujudan Ilusi di dalam Sebuah Ilusi

Sejak awal munculnya sebuah teknologi, hingga sekarang ia berkembang begitu pesat dan begitu canggih, ia terus menarik penonton untuk terkagum-kagum. Sebab dari pengalaman mesin tersebutlah bisa menjual dan mempromosikan sebuah ilusi. Di dalam medium audio-visual, film, ilusi ini dapat menghasilkan imajinasi, fantasi, atau hanya sekadar identifikasi. Film Spiderman Far From Home ini, membalut superhero-superheronya dengan ilusi dari teknologi yang canggih tersebut.

Spiderman, seorang manusia biasa yang bernama Peter Parker yang diperankan oleh Tom Holland. Ia baru berusia enam belas tahun. Diusianya yang masih muda, ia mendapat kekuatan super yakni, bisa berubah menjadi seperti seekor laba-laba. Kekuatan yang dimilikinya ini, justru membuatnya menghadapi dilema moral: antara cinta dan humanisme. Di satu sisi ia ingin menyelamatkan manusia, karena merupakan tanggung jawabnya, namun, di sisi lain ia juga ingin merasakan cinta.

Seperti yang tertera dalam judulnya yakni, Spiderman Far From Home, Peter Parker memang tidak melakukan aksinya di rumah atau di sekolah, melainkan di berbagai negara antara lain: Italia, Prancis, Berlin, Belanda, dan yang terakhir di London.

Setiap tempat, Parker mengalami rasa dan menghadapi peristiwa secara berbeda. Mulanya di pesawat terbang masih tertarik, hingga di Italia ia benar-benar ingin memiliki gadis tersebut hingga dibelikan kalung. Dan pada akhirnya berencana di Paris untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, itu semua tak berjalan seperti yang direncanakannya. Ia harus melewati berbagai rintangan untuk menyelamatkan manusia juga mendapatkan cintanya.

Sebagai remaja dan manusia biasa, dilema moral yang dihadapi oleh Peter Parker ini sebenarnya rumit, karena ia harus mempertaruhkan dua hal yakni, jiwa manusia dan hatinya. Akan tetapi, ia tak serta-merta mengedepankan nafsu dan egonya untuk memiliki gadis itu, namun, ia justru lebih mementingkan keselamatan banyak orang.

Teknologi Versus Naluri

Film-film Hollywood yang diangkat dari Marvel Comics, tak pernah terlepas dari kecanggihan-kecanggihan teknologi. Tak terkecuali film Spiderman Far From Home ini, memunculkan teknologi baru yaitu adanya drone yang digunakan untuk menyerang Spiderman atau Peter Parker dan teknologi EDITH berwujud kacamata miliki Tony Stark.

Teknologi EDITH milik Tony Stark, merupakan alat yang diberikan Nick Fuery (Samuel L. Jackson) kepada Parker untuk menyelamatkan kemanusiaan. Akan tetapi, setelah EDITH diserahkan Parker kepada Mysterio atau Quentin Beck (Jake Gyllenhaal), EDITH disalahgunakan. Justru bukan untuk misi kemanusiaan, melainkan karena eksistensialisme.

Mysterio merasa tersaingi oleh Parker, seorang remaja yang baru berusia enam belas tahun. Beck bersama timnya, mengendalikan dan mnegoperasikan kacamata EDITH sebagai alat untuk mengalahkan Spiderman.

Beck, bersama dengan timnya, mengendalikan dan mengontrol ribuan drone dan membuat Elemental-elemental ilusi untuk mengelabui dan mengalahkan Spiderman. Drone-drone ini dikendalikan oleh EDITH atas permintaan Beck. Apa yang Beck instruksikan ke EDITH, maka EDITH akan menjalankan tanpa menimbang-nimbang. Hal itu dikarenakan EDITH hanyalah sebuah sistem.

Sementara tim Beck menciptakan ilusi-ilusi: petir, angin topan, Elemental, hingga Mysterio buatan, untuk menjebak Spiderman, Beck mengerahkan ribuan drone untuk membuat Spiderman kelimpungan.

Spiderman melawan ilusi-ilusi yang diciptakan dari teknologi dan pemikiran manusia hanya dengan ”naluri spyder-nya”. Sempat terjebak ke dalam ilusi yang dibuat oleh Beck, namun dengan nalurinya itu, ia mampu waspada dan memiliki insting yang lebih kuat. Sehingga ilusi-ilusi itu mampu ia taklukkan. Drone-drone yang menyerang pun ia lawan dengan tenaga sendirinya melalui naluri itu.

Tak hanya sampai disitu, ketika Beck hampir tidak bisa berkutik, Beck masih bisa menciptakan ilusi yakni dirinya sendiri untuk mengecoh Spiderman bahwa Beck sangat menyesali perbuatannya. Dengan naluri yang dimiliki Spiderman, ia tak terkecoh dengan muslihat Beck ini. Spiderman tahu bahwa itu Beck palsu.

Akan tetapi, Spiderman mampu menghalau kecohan tersebut dan mampu merebut kembali kacamata EDITH. EDITH kemudian berada di bawah kendali Spiderman.

Bisa dikatakan bahwa teknologi tanpa pikiran dan kendali manusia, ia tidak bisa digunakan dan tidak dapat bekerja. Teknologi secanggih apapun hanyalah ciptaan manusia saja. Akan tetapi, naluri atau insting merupakan sisi lain yang ada di dalam diri manusia selain akal pikiran.

Selain itu, teknologi yang pada dasarnya adalah buatan manusia, ia tidak bisa mengalahkan pikiran dan logika manusia itu sendiri. Hal ini tersirat dalam percakapan antara Mysterio dengan Spiderman. Saat sedang menyerang Elemental air, Mysterio berkata kepada Spiderman bahwa air yang berasal dari laut, maka ia harus dijauhkan dari kanalnya. Ketika mereka akan berhadapan dengan Elemental api, Mysterio berpesan jangan dekatkan api dengan logam. Di sini bisa dikatakan bahwa yang bersifat dari alam tidak bisa di lawan dengan teknologi, namun juga dari alam pula.

Ilusi di dalam Sebuah Ilusi

Kedua teknologi tersebut sama-sama menghadirkan adanya sebuah ilusi. Seperti yang sudah diketahui bahwa film, dengan medium audio-visualnya, tidak bisa terlepas dari adanya ilusi. Hal tersebut karena untuk menciptakan adanya kesan gambar tiga dimensi. Namun, bagaimanakah jika medium yang sudah bersifat ilusi di dalamnya terdapat ilusi lagi?

Perbedaannya, jika pembuat film menciptakan ilusi karena ingin menghadirkan adanya kesan gambar tiga dimensi, sedangkan ilusi yang diciptakan di dalam naratif cerita ialah untuk mewujudkan konflik di dalam cerita, sebagai ketegangan cerita, dan untuk menciptakan imajinasi-imajinasi dalam pikiran penonton.

Ilusi yang berada di naratif cerita, sesungguhnya begitu menarik. Pertama, karena keberadaanya benar-benar dinamakan sebagai ilusi. Kedua, kerana ilusi tersebut digerakkan oleh karakter-karakter dengan bantuan teknologi. Dan yang terakhir, ilusi tersebut dapat mengecoh penonton bahwa apa yang dialami atau dihadapi oleh Spiderman benar-benar nyata, bukan sebuah tipuan.

———

Lisensi

Seluruh konten di halaman ini dilisensikan di bawah naungan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0).

Anda bebas untuk:

Bagikan - salin dan sebarkan materi dalam media atau format apa pun

Adaptasi - remix, transformasikan, dan bangun berdasarkan materi

Pemberi lisensi tidak dapat mencabut kebebasan ini selama Anda mengikuti ketentuan lisensi.

Di bawah ketentuan berikut:

Atribusi - Anda harus memberikan kredit yang sesuai , memberikan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan . Anda dapat melakukannya dengan cara yang masuk akal, tetapi tidak dengan cara apa pun yang menunjukkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.

Nonkomersial - Anda tidak boleh menggunakan materi untuk tujuan komersial.

Suka Berbagi - Jika Anda mencampur, mengubah, atau membuat materi, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama seperti aslinya.

Tidak ada batasan tambahan - Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau tindakan teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan apa pun yang diizinkan lisensi.

Pemberitahuan:

Anda tidak harus mematuhi lisensi untuk elemen-elemen materi dalam domain publik atau di mana penggunaan Anda diizinkan oleh pengecualian atau batasan yang berlaku.

Tidak ada jaminan yang diberikan. Lisensi tidak boleh memberi Anda semua izin yang diperlukan untuk tujuan penggunaan Anda. Misalnya, hak-hak lain seperti publisitas, privasi, atau hak moral dapat membatasi cara Anda menggunakan materi.

Interaksi dengan pos ini

Nawa Dasa Satsata

Ternyata masuk juga ke tulisan populer.

Saturday, November 23, 2019 at 1:14:00 AM GMT+7

Balas Hapus

Batal

Berhenti Berlangganan Komentar