Hollywood Sebagai Sebuah Industri

Studi film yang melibatkan estetika, teknologi, ideologi, dan penonton merupakan studi tentang film sebagai industri yang tetap menjadi pusat dan dasar bagi semua studi sinema lainnya. Hal tersebut dikarenakan, sinema pertama kali diorganisasi sebagai sebuah industri: sebagai sekumpulan bisnis yang mencari untung melalui produksi, distribusi, dan ekshibisi film, baik di bioskop, televisi, video, ataupun melalui metode baru.

Sejak 1920-an, sebagian besar sejarah sinema salah satunya adalah tentang industri, yang berbasis di Amerika Serikat, dikenal sebagai Hollywood dan telah mendominasi dunia. Oleh karena itu, tidak terelakkan bahwa studi tentang sejarah industri film telah dimulai dengan baik di Hollywood. Hal tersebut bukan dikarenakan industri sinema yang berbasis di Amerika Serikat telah menghasilkan film-film terbaik (dengan beberapa kriteria), tetapi karena telah memaksa semua bioskop nasional lain untuk memulai bertransaksi dengan kekuasaan Hollywood sebagai industri.

A. Pembabakan sejarah industri di Hollywood:

Prinsip Pertama

Hollywood awalnya adalah sebuah industri: sekumpulan perusahaan yang memaksimalkan keuntungan yang dioperasikan dari kantor pusat studio di Amerika Serikat dan seperti halnya semua industri film, Hollywood juga terdiri dari tiga komponen mendasar yakni, produksi, distribusi, dan ekshibisi film di layar lebar.

Produksi, dalam tahap ini merupakan tahap penggarapan film. Sejak awal 1910-an hal ini telah dilakukan di studio dan di sekitar Los Angeles, di daerah yang umumnya dikenal sebagai Hollywood.

Distribusi, film yang sudah selesai dibuat, kemudian film-film tersebut dijajakan oleh perusahaan-perusahaan Hollywood ke seluruh dunia. Distribusi di seluruh dunia ini telah lama menjadi dasar kekuatan Hollywood dan tidak ada industri film lain yang menjangkau sejauh Hollywood.

Presentasi atau Ekshibisi, yang oleh Gomery disebut sebagai “presentasi”, akhirnya film dipertontonkan di bioskop dan di televisi rumah. Sebelum era televisi, film dipertontonkan terutama di bioskop-bioskop yang terkadang memiliki 6.000 kursi. Kemudian, sejak 1960-an kebanyakan orang menonton sebagian besar film di telivisi yang dimiliki di rumah masing-masing.

Gomery mempertanyakan tentang bagaimana korporasi studio besar (Hollywood) mendominasi produksi, distribusi, dan ekshibisi dan dapat terus mempertahankan kontrolnya melalui kedatangan suara, inovasi warna dan gambar layar lebar, serta difusi dan video rumahan?

Dari pertanyaan tersebut, ia kemudian mengeksplorasi jawaban dengan memeriksa sejarah Hollywood sebagai industri, dengan mengidentifikasi melalui kebangkitan Hollywood, dari akhir abad kesembilan belas hingga kedatangan suara:

  • era studio tahun 1930-an dan 1940-an;
  • usia penyiaran televisi dimulai dengan munculnya televisi pada 1950-an;
  • dan era yang diresmikan dengan kedatangan blockbuster film fitur pada pertengahan 1970-an.

Kemunculan Hollywood

Pada tahun 1930-an, di tengah kedatangan suara, industri film di Amerika Serikat yang tumbuh selama tahun-tahun terakhir abad ke sembilan belas yang mulanya berbentuk konsolidasi, yang kemudian menjadi oligopoli (yaitu, kontrol oleh beberapa perusahaan).

Periode awal sejarah Hollywood tersebut disesaki dengan kesedihan, karena Hollywood dianggap mencegah sekelompok pembuat film progresif yang melayani penonton kelas pekerja, dan justru Hollywood mengadopsi struktur pemaksimalan laba secara terbuka.

Pada awalnya, sinema hanyalah sebuah teknologi. Melalui dekade 1890-an hingga hari-hari awal abad ke-20, penemu teknologi bekerja dengan pembuat film dan peserta pameran pertama untuk membujuk masyarakat yang kurang percaya untuk merangkul pertunjukan film. Studi tentang pengenalan teknologi baru ini berfokus pada seperangkat bisnis yang dibentuk untuk mengeksploitasi pengetahuan baru di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

Para penemu teknologi dan wirausahawan awal, tidak beroperasi dalam ruang hampa, berusaha untuk menciptakan beberapa perusahaan baru yang ideal, melainkan berusaha menjual penemuan mereka melalui industri hiburan yang ada.

Robert Allen (1985) menunjukkan bahwa aula vaudeville menjadi jalan keluar bisnis yang pertama. Namun, seperti yang ditunjukkan Allen (1982) ke Manhattan, dan yang Gomery (1992) telah tunjukkan ke kota-kota lain di Amerika Serikat, model pameran tersebut memberi jalan kepada “nickelodeon”, yang dari tahun 1905 hingga 1910 menyajikan pertunjukan film sepanjang satu jam; dan nickelodeon tersebutlah yang membentuk dasar industri film yang dalam satu dekade menjadi Hollywood.

Menurut Staiger (1982), Hollywood telah membentuk sistem yang fleksibel yang secara teratur memproduksi dan mendistribusikan film panjang dan newsreel. Akhirnya, Hollywood datang untuk mendukung distribusi dan presentasi atau ekshibisi dunia. Pada tahun 1920-an, penyebaran sinema Hollywood di seluruh dunia berhasil diselesaikan, tetapi pencapaian hegemoni dunia tidak berlangsung dengan mudah.

Periode awal ini berakhir dengan perubahan teknis yang tiba-tiba, yakni kedatangan suara. Popularitas film bicara memungkinkan perusahaan-perusahaan baru seperti Warner Bros, untuk naik kekuasaan dan bergabung dengan studio-studio besar termasuk Paramount, Loew, dan perusahaan-perusahaan kuat lainnya di era film bisu, yang tidak hanya mempertahankan tetapi meningkatkan kekuatan mereka.

Sistem Studio

Kehadiran suara, telah mengkonsolidasikan kontrol Hollywood atas pasar dunia dan memindahkan Amerika Serikat ke era studio di mana pembuatan film, distribusi, dan ekshibisi didominasi oleh lima perusahaan teater: Paramount, Loew (perusahaan induk yang lebih dikenal dengan Metro Goldwyn Mayer: MGM), Fox Film (kemudian menjadi Twentieth Century-Fox), Warner Bros, dan Radio Keith Orpheum (RKO). Mereka memerintah Hollywood selama tahun 1930-an dan 1940-an dan beroperasi di seluruh dunia sebagai perusahaan bisnis yang terintegrasi penuh.

Siaran Televisi

Tiga faktor era studio merosot:

  • Tranformasi sosial Amerika Serikat dengan sub-urbanisasi dan baby-boom;
  • Paramount Antitrust decrees (berkaitan dengan undang-undang yang mencegah atau mengendalikan perwalian atau monopoli lainnya dengan tujuan mempromosikan persaingan dalam bisnis);
  • Munculnya saingan gambar bergerak yakni, televisi.

Penyebab penurunan tersebut telah banyak diperdebatkan dan televisilah yang secara konvensional diidentifikasi sebagai penjahat utamanya. Seperti dalam sebuah argumen umum: begitu program televisi dimulai di Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua, penggemar film tertarik dengan hiburan televisi ‘gratis’ (yaitu didanai oleh iklan).

Sementara itu, pergi ke bioskop tiba-tiba menjadi mahal, membutuhkan perjalanan panjang ke pusat kota, sedangkan hiburan televisi jauh lebih murah sehingga jutaan warga Amerika Serikat memilih untuk tinggal di rumah saja.

Namun, ‘analisis substitusi’ tersebut mengabaikan bahwa, di sebagian besar Amerika Serikat, sinyal televisi tidak tersedia sampai lama setelah penurunan bioskop mulai terjadi.

Pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, hanya sepertiga dari seluruh negara yang memiliki perangkat bioskop, tetapi pada saat itulah jutaan orang berhenti menonton film. Setelah Perang Dunia Kedua, para penggemar film yang tadinya setia di Amerika Serikat mulai mencari hal lain yang harus dilakukan: menemukan rumah yang lebih bagus di pinggiran kota, membeli mobil, lemari es, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sub-urbanisasi dan baby-boom yang barangkali paling bertanggung jawab atas penurunan awal kehadiran film di Amerika Serikat.

Akhirnya, tahun 1950-an dan 1960-an, industri film menyesuaikan dengan keadaan baru tersebut. Pertama, dengan teater (drive-in) dan kemudian dengan bioskop di pusat perbelanjaan. Dalam jaringan lokasi yang benar-benar baru ini, Hollywood juga membedakan produknya dari televisi hitam putih dengan pengembangan gambar layar lebar dan warna.

Kedatangan televisi mengubah Hollywood dengan cara yang diharapkan dan tidak diharapkan. Sejak 1950-an, ketika warga Amerika Serikat mengisi rumah mereka dengan televisi, Hollywood telah diprediksi akan kehilangan kekuatannya. Namun, ini tidak terjadi karena industri Hollywood telah beradaptasi, mengambil keuntungan dari perubahan keadaan.

Hollywood menggunakan blockbuster untuk membedakan pengalaman sinematik dari televisi, industri film justru berdamai dengan siaran televisi. Hal tersebut dimulai dengan film yang dibuat untuk televisi dan kemudian berkembang menjadi mini series dan siaran televisi yang diadaptasi dari novel.

Hari Ini dan Masa Depan

Pada pertengahan 1970-an, Hollywood sebagai sebuah industri telah menyesuaikan diri dengan dunia baru produksi film yang fleksibel dengan audiens sub-urban baru yang tertangkap oleh televisi.

Namun, seperti yang ditunjukkan melalui karya Mayer (1978), Gomery (1993), dan Vogel (1995), era baru bagi Hollywood sebagai industri film dimulai pada pertengahan 1970-an menyusul inovasi blockbuster, yang dicontohkan oleh film-film seperti Jaws (1975) dan Star Wars (1977). Terlepas dari ‘berakhirnya’ pemutaran film, kehadiran teater di Amerika Serikat tetap stabil dalam penerimaan 1 miliar per tahun. Jutaan penggemar masih datang ke bioskop terdekat di pusat perbelanjaan untuk menikmati film laris Hollywood.

Janet Staiger (1982) memandang hal tersebut dengan berbeda. Ia berpendapat bahwa berbagai periode produksi di Hollywood mengakhiri perbedaan utama mereka. ejarah produksi di Hollywood, Staiger menemukan pola yang konsisten—dengan studio yang selalu memilih produksi film dan kelompok di bawah kendali studio yang membuat produksi film—daripada beberapa transformasi mendasar.

Bagi Gomery, cara dan tempat baru untuk menonton film, terutama melalui kabel, satelit, dan video, yang telah menentukan era sinema kontemporer. Pada pertengahan 1970-an, Time Inc. mengubah dunia televisi kabel di Amerika Serikat dengan Home Box Office (HBO), dengan bayaran bulanan sekitar $ 10.

HBO menawarkan kepada pelanggan televisi kabel dengan gambar-gambar film Hollywood terkini yang tanpa potongan atau jeda, tidak terganggu oleh iklan dan tidak disanitasi terhadap sensor jaringan. Hal ini merupakan kali pertama era televisi menemukan cara agar pemirsa menonton di rumah dengan membayar. Sebagai ‘televisi berbayar’, HBO juga menarik kembali penggemar film lama yang tidak ingin pergi ke teater tetapi tertarik menonton film-film yang diputar kembali di televisi rumahan.

Pada 1995 ada juga American Movie Classic dan sejumlah bioskop televisi kabel lainnya di rumah, tempat film-film Hollywood lama masih terus berlangsung sepanjang hari. Pasca-1975, era video, yakni pada pertengahan 1980-an mencapai perubahan terbesar dengan revolusi video rumahan.

Dalam hal ini, Sony, pada tahun 1975, memperkenalkan perekam kaset video rumahan setengah inci Betamax. Awalnya dengan harga lebih dari $ 1.000, pada pertengahan 1980-an, biaya mesin Beta dan pesaing baru mereka dari Video Home System (VHS) turun menjadi lebih dari $ 300.

Selama 1980-an, Hollywood menemukan cara untuk memanfaatkan inovasi tersebut. Pada tahun 1986 pengembalian dari video tambahan yang melebihi pengambilan di box-office Amerika Serikat. Pertengahan 1980-an, sekitar 400 kaset pra-rekaman baru dirilis setiap bulan, 70 persen di antaranya adalah film Hollywood.

Adaptasi terhadap sistem penyampaian yang baru ini disertai dengan perubahan kepemilikan perusahaan besar Hollywood dan kemunculan mereka sebagai konglomerat media.

Proses konglomerasi dimulai pada 1985 hingga 1986, ketika Rupert Murdoch mengambil alih Twentieth Century Fox. Pada saat yang sama Michael Eisner mulai mengubah dan membangun kembali Walt Disney Corporation.

Akibatnya, industri Hollywood saat ini terdiri atas enam konglomerat media multinasional: Disney, Twentieth Century Fox, Universal, Paramount, Columbia, dan Warner Bros. Ciri utama konglomerat-konglomerat tersebut adalah keterlibatan mereka di hampir semua bentuk media massa.

MCA, Warner, dan Sony adalah pembuat dan distributor musik rekaman—dalam bentuk kaset dan CD dan apa pun bentuk baru yang akan datang. Time Warner adalah pemimpin dunia majalah. Sedangkan Disney memelopori taman hiburan; MCA dan Paramount juga merupakan operator taman hiburan utama. Terakhir Fox, sebagai bagian dari kekaisaran News Inc. milik Rupert Murdoch, bersekutu dengan surat kabar terkemuka di seluruh dunia.

B. Perdebatan kritis

Tiga bidang perdebatan yang mungkin dipandang sangat penting: pentingnya sistem studio, penjelasan tentang kontrol Hollywood, dan identifikasi fokus analitik yang sesuai untuk studi ‘Hollywood’.

Pentingnya sistem studio

Sudah lazim untuk mengidentifikasi sistem studio tahun 1930-an dan 1940-an sebagai era yang paling penting dan menarik era film, yaitu studi industri. Pada saat itu, diyakini bahwa pembuatan film Hollywood lebih murni dan tidak dikompromikan oleh ‘kejahatan’, yakni televisi. Namun, sementara era studio itu penting, era ini hanya mewakili satu dari empat era fundamental dalam sejarah Hollywood sebagai industri.

Era studio ini dimulai dengan penemuan suara, yang menciptakan puncak kehadiran suara. Titik puncak ini diikuti oleh penurunan permintaan yang disebabkan oleh Great Depression. Era studio berakhir, ditransformasikan oleh Paramount antitrust decrees, sub-urbanisasi, dan munculnya televisi.

Namun, dengan hal-hal tersebut harus adanya kehati-hatian untuk tidak melebih-lebihkan tipikal dari era tersebut, atau untuk melebih-lebihkan kepentingannya. Seperti yang dijelaskan oleh Bordwell, Staiger, dan Thomspon (1985), bahwa jika dibandingkan dengan industri kontemporer, operasi era studio tampak sangat aneh. Terlebih lagi, enam konglomerat media yang mendominasi Hollywood kontemporer kini memiliki kekuatan dan kohesi yang dengannya oligopoli studio-studio Hollywood selama tahun 1930-an dan 1940-an tidak berarti.

Penjelasan tentang kontrol Hollywood

Janet Wasko (1982, 1995) dan mentornya Thomas Guback (1969) berpendapat bahwa, industri Hollywood dikendalikan oleh lembaga keuangan. Di bawah jenis ekonomi yang dipengaruhi Marxis ini, tidak ada alasan untuk melakukan analisis lebih lanjut. Sebab, seperti halnya dengan semua aspek kapitalisme di Amerika Serikat, industri media massa dibentuk oleh kekuatan yang ditemukan dalam komunitas investasi bank, yang umumnya dikenal sebagai Wall Street.

Analisis kapitalisme keuangan ini, sebagaimana diketahui, dapat ditemukan dalam bentuk sebuah argumen yang dikendalikan oleh JP Morgan dan John D. Rockefeller, bahwa Hollywood pada 1930-an, memegang keseimbangan kekuasaan di delapan studio besar dan teater yang berafiliasi beserta saluran distribusi, dengan demikian mengendalikan Hollywood sebagai sebuah industri.

Pada 1937, Klingender dan Legg mempopulerkan hipotesis Morgan dan Rockefeller, dan sejak itu menjadi batu lompatan dari sejarah Hollywood sebagai sebuah industri.

Sejarawan Hollywood hanya memberi tahu bahwa Motion Picture Association of America adalah sebagai agen pengekang, pertama melalui Hays Code (mengambil nama dari Will H. Hays, presiden Motion Picture Producers and Distributors of America: MPPDA) dan hari ini dengan peringkat film. Tetapi Motion Picture Association of America tersebut lebih dipahami sebagai agen koperasi, asosiasi atau perdaganagan, yang dibentuk untuk mempertahankan kekuatan perusahaan. Hal tersebut berarti melobi aturan yang menguntungkan di pasar Amerika Serikat sendiri dan penghapusan semua peraturan di pasar luar negeri.

The Motion Picture Association of America adalah agen yang digunakan studio-studio besar yang bekerja pada pasar Amerika Serikat yang terbuka dalam negosiasi yang disyaratkan oleh National Recovery Act pada 1930-an dan untuk Eropa terbuka melalui General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada 1990-an.

Korporasi yang mengendalikan Hollywood pada tahun 1930, ketika Great Depression dimulai, Motion Picture Association of America tetap menjadi perusahaan top hingga akhir abad ini.

Kendatipun banyak yang telah mencoba, namun tidak ada perusahaan baru yang telah dibuat sebagai studio utama. Hollywood sebagai sebuah industri dengan demikian paling baik dianalisis dan dipahami sebagai salah satu oligopoli korporasi paling berkuasa dan kuat dalam sejarah bisnis dunia.

Fokus analisis Hollywood

Secara umum, industri film Amerika Serikat terlihat memiliki fokus analisis sederhana, yakni bisnis film, di Hollywood. Namun, argumen ini menjadikan industri film dari tiga fungsi, yakni produksi, distribusi, dan ekshibisi, menjadi satu, ialah pembuatan film.

Hal yang menyesatkan ialah, apabila menganggap Hollywood sebagai pusat industri tunggal. Pusat kekuatan industri film yang berbasis di Hollywood, sejak penutupan Perang Dunia Pertama, berada di bawah kendali atas distribusi internasional. Industri Hollywood telah lama mendominasi pemesanan di seluruh dunia, dan angka film box-office di Amerika Serikat, bahkan dengan blockbuster, kecil dibandingkan dengan pengambilan total dari semua sumber di seluruh dunia.

Namun, jika inti dari kekuatan Hollywood adalah kontrol distribusi internasionalnya, hal ini telah mengilhami penelitian ilmiah yang proporsional. Akan tetapi, sayangnya, distribusi adalah bagian industri yang paling sedikit dianalisis.

Konklusi

Jika kekuatan ekonomi Holiywood bukan hanya berasal dari kontrol produksi film, tetapi juga distribusi dan ekshibisi, hal tersebut tetap salah untuk melebih-lebihkan kekuatan ekonomi mereka. Sebab, terlepas dari ukuran kerajaan yang besar ini, mereka menghasilkan angka pendapatan yang pucat di samping bisnis yang benar-benar besar seperti Exxon atau General Motors. Seburuk yang telah dilakukan International Business Machines (IBM pada) 1990-an, IBM dapat menyerap Hollywood dan semua konglomerat media tetap akan menjadi bagian kecil.

Jadi, meskipun sangat menguntungkan dan sangat berpengaruh, Hollywood sebagai sebuah industri pada akhirnya harus dipahami sebagai perusahaan bisnis skala menengah.


Lisensi

Seluruh konten di halaman ini dilisensikan di bawah naungan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0).

Anda bebas untuk:

Bagikan - salin dan sebarkan materi dalam media atau format apa pun

Adaptasi - remix, transformasikan, dan bangun berdasarkan materi

Pemberi lisensi tidak dapat mencabut kebebasan ini selama Anda mengikuti ketentuan lisensi.

Di bawah ketentuan berikut:

Atribusi - Anda harus memberikan kredit yang sesuai , memberikan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan . Anda dapat melakukannya dengan cara yang masuk akal, tetapi tidak dengan cara apa pun yang menunjukkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.

Nonkomersial - Anda tidak boleh menggunakan materi untuk tujuan komersial.

Suka Berbagi - Jika Anda mencampur, mengubah, atau membuat materi, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama seperti aslinya.

Tidak ada batasan tambahan - Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau tindakan teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan apa pun yang diizinkan lisensi.

Pemberitahuan:

Anda tidak harus mematuhi lisensi untuk elemen-elemen materi dalam domain publik atau di mana penggunaan Anda diizinkan oleh pengecualian atau batasan yang berlaku.

Tidak ada jaminan yang diberikan. Lisensi tidak boleh memberi Anda semua izin yang diperlukan untuk tujuan penggunaan Anda. Misalnya, hak-hak lain seperti publisitas, privasi, atau hak moral dapat membatasi cara Anda menggunakan materi.

Interaksi dengan pos ini

Nawa Dasa Satsata

Menarik nih kajian sinema kali ini. Setelah kubaca nanti, aku pasti datang kembali untuk berkomentar mengenai Hollywood. Tunggulah.

Minggu, 24 November 2019 05.58.00 WIB

Balas Hapus

Batal

Berhenti Berlangganan Komentar